Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Ini kisah inspiratif Lee Su-jin. Dulu, pria ini hanyalah seorang petugas kebersihan. Cleaning service. Namun kini, pria Korea Selatan itu menjelma sebagai miliarder.
Lee besar sebagai yatim-piatu. Dia pernah bekerja sebagai petugas kebersihan di hotel. Namun, Lee tidak meninggalkan pendidikan. Dia tetap mencecap ilmu di sekolah hingga lulus sarjana teknik dari Universitas Nasional Kongju di pusat kota Gongju.
Pengalaman bekerja sebagai petugas kebersihan tidak disia-siakan. Menurut laman Bloomberg News, dia menggunakan koneksinya dengan pemasok kertas toilet dan pemilik hotel untuk meluncurkan Yanolja, aplikasi pemesanan love hotel paling populer di Korea Selatan.
Lee Su-jin meluncurkan aplikasi tersebut pada 2005. Lee Su-jin merupakan CEO sekaligus pemegang saham terbesar ke dua Yanolja, dengan 16,54 persen saham. Istri dan dua putrinya masing-masing menggenggam 5,18 persen saham di Yanolja.
Pemegang saham terbesar Yanolja adalah Vision Fund 2 SoftBank, yang membeli 25,23 persen saham aplikasi tersebut pada Juli 2021 lalu seharga US$1,7 miliar.
Menurut Forbes, kekayaan bersih Lee dan keluarganya diperkirakan mencapai US$2 miliar atau setara Rp28,9 triliun. Media Negeri Ginseng pada April silam melaporkan bahwa Yanolja berencana untuk terdaftar di Nasdaq pada kuartal ke tiga tahun ini.
Yanolja, menurut Forbes, melaporkan pendapatan kuartal pertamanya naik 19 persen dari tahun ke tahun, menjadi 100,5 miliar won atau US$80 juta, sementara laba bersih sedikit menurun menjadi 8,8 miliar won dari 9 miliar won selama periode yang sama.
Yanolja meraup cuan dengan memotong dari pemesanan dan membebankan hotel serta perusahaan perjalanan untuk beriklan di platformnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Yanolja telah mengembangkan bisnis berbasis cloud, seperti sistem manajemen yang membantu hotel mengelola reservasi dan analitik data besar yang memprediksi perilaku pelanggan.
Pendapatan dari bisnis cloud-nya pun berkontribusi 20,5 persen terhadap total penjualan Yanolja di kuartal pertama, naik dari sekitar 8,5 persen di tahun 2021.
Selain SoftBank, investor Yanolja lainnya termasuk GIC, raksasa perjalanan online Booking.com dan SkyLake Investment, sebuah perusahaan ekuitas swasta Korea yang dipimpin oleh mantan eksekutif Samsung Electronics Chin Dae-je.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya