Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Dunia Tak Punya Merek Hijab Terkemuka

Reporter : Syahid Latif
Selasa, 23 September 2014 11:01
Dunia Tak Punya Merek Hijab Terkemuka
"Kesenjangan di pasar saat ini dikendalikan oleh para pemain utama industri fashion global, yang tidak sepenuhnya hadir untuk memenuhi kebutuhan pelanggan Muslim,"

Dream - Jumlah penganut agama Islam di dunia ditaksir mencapai 1,6 miliar atau 23 persen dari total populasi dunia. Meski berpotensi besar, dunia muslim justru belum memiliki satupun merek fashion dan desain yang terkemuka di dunia.

Kondisi yang terjadi justru ada kesenjangan yang besar antara pasar pakaian, fashion dan desain muslim dengan brand Islami dalam memenuhi kebutuhan penduduk Muslim, terutama perempuan.

" Kesenjangan di pasar saat ini dikendalikan oleh para pemain utama industri fashion global, yang tidak sepenuhnya hadir untuk memenuhi kebutuhan pelanggan Muslim," kata Ketua Kadin Dubai (Dubai Chamber of Commerce and Industry), Abdul Rahman Saif Al Ghurair seperti dikutip dari laman Zawya, Selasa, 23 September 2014.

Menurut Al Ghurair, temuan dalam laporan Thomson Reuters belum lama ini bisa menjadi catatan penting bagi Dubai, yang tengah berusaha menjadi pusat fashion dan desain Islam di dunia.

Kurangnya brand Muslim dianggap kesempatan bagus bagi perancang pakaian dan perusahaan lokal. Terutama untuk meningkatkan status Dubai sebagai pusat trend sekaligus memanfaatkan sukses sektor ritel untuk membangun brand pakaian Muslim global.

Saat ini, dunia muslim memang tidak ada brand Islami lokal yang mendominasi pasar. Namun, dari 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), perusahaan pakaian lokal telah berhasil menunjukan kehadirannya dengan memproduksi pakaian lokal berdasarkan preferensi budaya lokal.

Kesenjangan dalam pasar pakaian, fashion dan desain Islam internasional memang cukup signifikan karena populasi Muslim global menghabiskan US$ 224 miliar untuk pakaian hanya pada 2012. Total pengeluaran ini mencapai 10,6 persen dari alokasi global di sektor pakaian.

Secara global, pengeluaran untuk pakaian dan alas kaki mencapai sekitar US$ 2,1 triliun di tahun 2012 dan akan meningkat menjadi US$ 2,9 triliun pada 2018. Sementara pengeluaran oleh penduduk Muslim diperkirakan akan tumbuh dari US$ 224 miliar pada tahun 2012 menjadi US$ 322 miliar pada tahun 2018, atau sekitar 11,2 persen dari pengeluaran global.

Laporan Thomson Reuters juga menyebitkan pasar global pakaian Islam, fashion dan desain lebih besar daripada kebanyakan pasar pakaian global besar seperti China, Jepang, Rusia dan Jerman pada tahun 2012. Satu-satunya pengecualian adalah Amerika Serikat, yang merupakan pasar terbesar dalam hal pengeluaran untuk pakaian dan alas kaki di tahun 2012.

Di antara negara-negara mayoritas Muslim, Turki mencatat pengeluaran tertinggi untuk pakaian pada tahun 2012 diikuti oleh Iran. Negara terkemuka lainnya dalam kelompok ini adalah Indonesia, Mesir, Arab Saudi, Pakistan dan Uni Emirat Arab.

Pasar pakaian, fashion dan desain Muslim adalah industri dengan potensi yang sangat besar dan merupakan salah satu sektor inti dari ekonomi Islam. Oleh karena itu laporan ini menjadi bahan diskusi menarik, apalagi WIEF Foundation dan Dubai Chamber akan menyelenggarakan World Islamic Economy Forum ke-10 pada 28-30 Oktober 2014 di Dubai. (Ism)

Beri Komentar