Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (http://mnsales.com/)
Dream - Melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2015 tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai belahan dunia lain, ekonomi bahkan hampir bergerak turun.
Berdasarkan catatan Mandiri Sekuritas, negara-negara yang kuat secara ekonomi seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Inggris dan Cina mencatat pertumbuhan ekonomi kurang dari lima persen hingga akhir Maret 2015.
Ekonom PT Mandiri Sekuritas Leo Rinaldy seperti dikutip Dream, Jumat, 29 Mei 2015, menjelaskan, laju pertumbuhan ekonomi di setiap negara terjadi seiring harga komoditas yang beredar di pasaran. Komoditas utama dunia seperti batu bara, minyak kelapa sawit mentah, karet dan migas tercatat terus menurun.
Dalam catatan Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan mencatat, harga komoditas tersebut anjlok hingga 30 persen sejak pembukaan 2001 hingga penutupan April 2015.
Leo menduga penurunan harga tersebut juga dipengaruhi jumlah persediaan yang menumpuk. Contohnya, selama periode 2013 sampai Oktober 2014 Libya, Nigeria, Irak, Iran, Amerika Serikat, Arab Saudi dan Rusia memiliki persediaan minyak mentah yang cukup besar.
Perlambatan ekonomi dunia inilah yang akhirnya berdampak langsung ke Indonesia. Selain merasakan pelambatan pertumbuhan ekonomi dan tingginya tingkat inflasi secara nasional, sejumlah wilayah penghasil minyak dan batu bara terbanyak di Indonesia mendapat dampak paling besar.
“ Wilayah seperti Kalimantan dan Sumatera itu paling menderita karena penurunan harga komoditas, mereka mengalami kontraksi,” ujar Leo.
Kalimantan selama ini memang terkenal sebagai pulau penghasil batu baru, Sementara Riau, sudah lama dikenal sebagai daerah yang memiliki kebun kelapa sawit paling luas di Indonesia.
Laporan: Kurnia R Yunita
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya