Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Terlemparnya Indonesia dari posisi 10 besar dalam Laporan Islamic Finance Development 2014 memang sudah diperkirakan sebelumnya. Hal ini disebabkan melambatnya perekonomian secara keseluruhan di tanah air.
Pengamat ekonomi syariah Muhammad Gunawan Yasni menilai saat ini industri keuangan syariah di Indonesia memang sedang jalan di tempat. Pasalnya, tidak terjadi ekspansi dalam industri ini.
" Saya lihat di perbankan syariah mengalami perlambatan seperti bank konvensional karena tidak ada ekspansi," ujarnya kepada dream.co.id, Selasa, 23 September 2014.
Menurut Gunawan, perlambatan tersebut disebabkan kondisi politik dan berbagai kebijakan ekonomi yang belum jelas sejak tahun 2013.
" Masalah di Indonesia karena kondisi politik, lalu kebijakan ekonomi seperti kenaikan harga BBM. Baru isu saja kan sudah menaikkan harga barang lainnya. Jadi orang-orang masih wait and see, belum mau ekspansi," jelasnya.
Akibatnya, lanjut Gunawan, baik bank konvensional maupun bank syariah mengalami kesulitan menarik dana nasabah, apalagi untuk bank syariah yang harus bersaing dengan konvensional.
" Sekarang mengarah ke krisis likuiditas. Hal ini terlihat dari tren NPL di bank konvensional dan NPF di bank syariah yang naik, lalu untuk menarik dananya diperlukan iming-iming kemudahan kredit atau bagi hasil," ujarnya.
" Kemudian, nasabah kelas satu pun ditangkap oleh bank-bank konvensional, terutama yang BUMN. Ini yang membuat bank syariah semakin tertinggal," tambahnya.
Perlambatan perekonomian Indonesia yang menyebabkan melambatnya pertumbuhan industri keuangan syariah ini setidaknya berpengaruh juga dengan pertumbuhan industri keuangan syariah di tingkart regional sepeerti Asia Tenggara.
" Indonesia kan pangsa pasarnya besar untuk Asia Tenggara," paparnya.
Untuk itu, suatu hal yang wajar jika penilaian industri keuangan syariah tahun 2014 ini, Indonesia mengalami penurunan. Pada Laporan Islamic Finance Development 2014, Indonesia berada pada peringkat 12.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya