Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ada Tantangan Terbesar Yang Menjadi Penghambat Berkembangnya Keuangan Syariah Di Indonesia.
Dream – Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pusat keuangan syariah global. Tentu keinginan pemerintah ini berdasarkan pada potensi Indonesia yang besr karena mayoritas penduduknya mayoritas beragama Islam.
Akan tetapi, mewujudkannya pun bukan hal yang mudah.
Dikutip dari Merdeka.com, Jumat, 16 Juni 2017, anggota DPR RI, Fadel Muhammad, mengatakan banyak tantangan yang harus dihadapi kementerian, lembaga, dan otoritas terkait untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan syariah global.
“ Hambatannya kurang sosialisasi. Sosialiasasi sulitnya luar biasa,” kata Fadel di Jakarta.
Dia mengatakan penawaran produk keuangan syariah masih kurang kompetitif dibandingkan dengan produk keuangan konvensional.
Oleh sebab itu, industri keuangan syariah harus dituntut membuat beragam produk inovatif. Dengan begitu, industri keuangan syariah bisa bersaing dengan industri keuangan konvensional.
“ Sebagian besar modal yang dimiliki juga kecil. Dalam riset yang kami buat, terlihat memang 77 persen ekonomi dan keuangan syariah masih terpusat di Jawa. Untuk pembiayaan pun demikian di Jawa dan Jakarta mendominasi,” kata dia.
Fadel pun meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) supaya melakukan sosialisasi masif tentang keuangan syariah. Dia juga meminta para pemangku kepentingan keuangan syariah untuk menambah modal atau melakukan merger agar keuangan syariah bisa lebih besar.
“ Ketika saya di Komisi XI DPR bersama dengan Pak Muliaman (Ketua Dewan Komisioner OJK) dan Pak Bambang (Bambang PS Brodjonegoro yang kala itu menjabat sebagai menteri keuangan) ingin sekali membesarkan keuangan syariah. Cuma, masalahnya yang dihadapi modal. Saya bilang kalau digabungkan atau diinjeksi lagi modal. Potensi untuk tumbuh besar sekali,” kata dia.
Fadel mengatakan dengan upaya itu, industri keuangan syariah bisa bersaing dengan negara lain, seperti Malaysia.”Masak kita kalah sama Malaysia, sama negara lain. Padahal, kita ini negara Muslim terbesar,” kata dia. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya