Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Menguatnya Dollar AS mulai membuat pebisnis e-commerce ketar-ketir. Bak buah simalakma, para mitra bisnis e-commerce tak bisa seenaknya menaikkan harga jual mengingat persaingan yang sengat ketat.
Kusumo Martanto, selaku Chief Executive Officer Blibli.com mengatakan pihaknya berharap para mitra bisnis menahan diri menaikkan harga produk yang ditawarkan.
" Nanti kalau dinaikan nggak ada yang beli dan pindah ke toko sebelah. Jadi saya sarankan mending ditahan dulu untuk sementara waktu," ujarnya di Jakarta seperti dikutip Dream, Jumat, 28 Agustus 2015.
Kusumo mengakui, menguatnya dollar AS memang berdampak besar pada penjualan barang-barang impor yang dijual mitra perusahaannya. Namun jika mitra membeli barang ketika kurs dollar AS masih stabil, sebetulnya mereka tak mengalami kerugian apapun.
" Saya katakan lucu kalau mereka beli pas harga Rp.12.500 tapi karena sekarang jadi Rp.14.000 ikut dinaikan padahal mereka kan nggak mengalami kerugian. Jadi sayang kalau sampai barang nggak laku," tambah Kusomo yang ditemui di restoran Kembang Goela,Plaza Sentral.
Sampai saat ini, ujar Kusumo, penguatan dollar AS belum berdampak pada penjualan secara online. Bahkan pada pertengahan tahun ini, para mitra sebetulnya mereka masih mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat.
" Sedangkan kalau untuk output saya percaya masih bisa mencapai target ekonomi karena masih banyak cara andalan untuk mengontrol laju ekonomi," imbuh pria asal Semarang itu.
Menghadapi situasi ekonomi yang terpuruk, Kusumo mengaku akan menekankan pada upaya menggenjot layanan konsumen. Hal itu adalah peluang untuk saling berkompetisi menarik pelanggan.
" Kalau sudah kepepet seperti ini pasti semuanya jadi lebih kreatif mencari solusi. Apalagi jumlah pengguna internet yang memanfaatkan transaksi online terus meningkat menjadi 10 persen dari 70-80 juta user," pungkas Kusumo.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya