Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ada Masker Yang Terbuat Dari Kulit Buaya Dan Ular. (Foto: Oddity Central)
Dream - Di tengah pandemi corona yang terjadi, kebutuhan masker medis dan masker kain menjadi tinggi. Di Indonesia, pemerintah telah mewajibkan warganya untuk menggunakan masker apabila keluar rumah.
Masker kain dan masker medis merupakan hal umum di saat-saat seperti sekarang.
Namun, jika Sahabat Dream menginginkan masker yang unik, berbeda dan bersedia menghabiskan jutaan rupiah untuk sebuah masker, ada masker yang unik sekaligus menguras dompet kamu.
Dikutip dari Oddity Central, Selasa 28 April 2020, kalian bisa mencoba membeli masker yang terbuat dari kulit buaya atau kulit ular. All American Gator merupakan sebuah perusahaan berbasis di Florida yang mengkhususkan diri membuat produk dari kulit buaya dan kulit ular.
Tidak mau ketinggalan tren, perusahaan ini mengeluarkan produk di tengah pandemi covid-19 yaitu masker dari kulit reptil.
Kulit reptil tersebut tidak sepenuhnya memberikan perlindungan dari virus corona. Namun tujuan masker ini untuk fashion. Masker tersebut dirancang hanya sebagai filter atau pelapis.
" Orang-orang harus menutupi wajah mereka, dan sayangnya situasinya mungkin lebih lama dari yang kita bayangkan. Beberapa orang ingin membuat dirinya lebih fashionable selama pandemi ini, jadi saya ingin memberi mereka pilihan," kata pemilik All American Gator, Brian Wood.
Masker unik tersebut terbuat dari silikon softshell hypoallergenic dengan kulit reptil di bagian luarnya.
Wood mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan menggunakan kain tambahan yang berbahan dasar surgical-grade namun sulit ditemukan. Ia berencana membuat masker dengan sistem penyaringan N95 yang canggih.
Sementara untuk estetika, topeng python akan dibuat dengan lubang dibingkai oleh cincin hitam, perak atau emas yang nantinya akan hadir dalam berbagai warna.
Berbicara mengenai desain, Wood mengungkapkan jika desainnya masih masuk tahap awal. Dia hanya ingin mengambil keuntungan dari pasokan yang dimiliki di perusahaan.
" Desainnya masih dalam tahap awal dan saya ingin mengambil keuntungan dari pasokan yang saya miliki di perusahaan. Tidak hanya dari kulit ular sanca, tetapi juga kulit buaya dan kulit iguana invasif," kata Wood.
Adapun harga yang dibandrol untuk masker kulit phyton Burma atau iguana sebesar US$90 (Rp1,3 juta). Sementara untuk masker dengan kulit buaya seharga US$120 (Rp1,8 juta).
Dream - Masker dari bra sempat viral dan menjadi lelucon di media sosial. Namun tampaknya Jepang menganggap serius ide tersebut dan menjadikannya kenyataan.
Perusahaan pakaian dalam dari Jepang, Atsumi Fashion memproduksi masker dengan memakai bahan pembentuk bra. Lapisan kain bra berwarna-warni itu disulap menjadi masker pencegah Covid-19.

Foto: Twitter @AtsumiFashion
Perusahaan yang berbasis di Tokoyama itu juga menghiasi masker dengan renda sehingga membuatnya tampak seperti bra. The Lace Bra Mask mampu melindungi sebagian wajah hingga mencapai dagu.
Dilansir dari Japan News, masker dibanderol dengan harga 1,490 Yen atau Rp215 ribu dan terdiri atas warna putih, pink, lime, aqua blue dan hitam.

Foto: Twitter @AtsumiFashion
Masker tersebut mendapat perhatian besar dan ludes kurang dari seminggu. Atsumi Fashion juga berencana membagikan masker kepada tenaga medis dan orang yang membutuhkan perlindungan selama pandemi corona.
Dream – Kondisi pandemi covid-19, masker medis menjadi sesuatu yang langka. WHO pun sudah memberikan saran untuk menggunakan masker kain sebagai alternatif pengganti masker bedah.
Namun, upaya pelindungan diri dengan menggunakan masker kain dianggap masih belum efektif. Dokter sekaligus Kepala Departemen Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Dr. dr. Bambang Udji Djoko Rianto, Sp.THT (K)., M.Kes., mengatakan msker kain tidak dapat memproteksi masuknya partikel.
" Penetrasi masuk partikel kalau pakai masker kain ini 97 persen bisa tembus masker, perlindungannya hanya 3 persen saja,” ujarnya.
Masker kain tidak memiliki perlindungan layaknya masker bedah dalam mencegah penularan virus. Dikarenakan penularan virus covid-19 yang melalui percikan air liur (droplet) dan partikel kecil yang terbawa udara (airbone).

Salah satu penyebab masker kain tidak memiliki tingkat efektivitas yang tinggi adalah karena masker kain biasanya terdiri dari satu lapis saja. Meskipun sekarang sudah banyak masker kain yang dibuat dengan menggunakan 2 lapisan kain. Namun hal tersebut belum dapat menjadi patokan.
Pada masker bedah terdiri dari 3 lapisan dengan fungsinya masing-masing. Lapisan luar anti air berfungsi sebagai pelindung dari droplet dan airbone. Lapisan kedua berfungsi sebagai filter kuman dan lapisan ketiga berfungsi untuk menyerap cairan yang keluar dari mulut pengguna.
“ Ketiganya tidak didapat dari masker kain biasa dan ini bahaya. Sebab, begitu virus yang menenempel bisa menembus di sela pori-pori kain,” tutur dokter THT RSUP Dr. Sardjito ini.

Terdapat sebuah penelitian yang dilakukan untuk membandingkan efektivitas pengunaan masker bedah dengan masker kain. Penelitian tersebut telah diterbitkan pada jurnal BMJ Open (2015) berjudul A Cluster Randomise Trial of Cloth Masks Compared with Medical Masks in Healthcare Workers.
Dalam penelitian yang dilakukan di Hanoi, Vietnam pada 1.607 rumah sakit diketahui bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara penggunaan masker bedah dan masker kain dalam mencegah infeksi saluran pernafasan maupun infeksi virus.
”Hasilnya sangat luar biasa, ternyata orang yang pakai masker kain kemungkinan menderita infeksi saluran napas dan infeksi virus 13 kali lebih besar dibandingkan dengan yang memakai masker bedah. Ini kan bahaya sekali,”urainya.
Virus covid-19 memiliki ukuran kecil sekitar 0,125 mikrometer atau 125 nanometer. Sedangkan masker kain tidak memiliki kerapatan untuk menangkal jenis virus berukuran kecil seperti covid-19.

Namun penggunaan masker kain tetap disarankan sebagai alternatif terakhir untuk perlindungan diri. Bambang menyarankan agar masker kain dilapisi oleh tisu dibagian tengahnya. Agar dapat mengurangi kemungkinan partikel virus masuk ke dalam masker kain.
“ Memang sampai sekarang belum ada riset yang meneliti efektivitas penggunaan masker kain 3 lapis ini. Namun, logikanya kan lebih rapat jadi bisa lebih memproteksi dari infeksi virus,”paparnya.
Namun dalam upaya pencegahan virus covid-19, harus diperhatikan pula faktor-faktor lainnya selain menggunakan masker. Seperti rajin mencuci tangan dengan sabun dan air, melakukan physical distancing hingga sebisa mungkin untuk tetap berdiam diri di rumah. (mut)
(Sumber: ugm.ac.id)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya