Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Imbas Kenaikan Dolar, Bisnis Travel Wisata ke Luar Negeri Lesu

Reporter : Puri Yuanita
Selasa, 8 September 2015 08:15
Imbas Kenaikan Dolar, Bisnis Travel Wisata ke Luar Negeri Lesu
Melonjaknya pertukaran nilai dollar terhadap rupiah, membawa dampak yang cukup signifikan di bidang pariwisata religi.

Dream - Melonjaknya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, membawa dampak yang cukup signifikan di bidang pariwisata. Beberapa agen tur dan travel mengeluhkan turunnya jumlah wisatawan religi yang menggunakan jasa mereka untuk berwisata ke luar negeri.

Seperti dituturkan Syarif Hidayat, pengelola Safira Tour & Travel ini merasakan dampak penurunan wisatawan hingga 90 persen. Ditambah dengan kebijakan baru dari pemerintah yang mengurangi kunjungan ke luar negeri.

" Pelanggan kami banyak dari pemerintahan yang melakukan kunker (kunjungan kerja) dan sudah dua tahun ini dibatasi hingga 50 persen. Ditambah dengan naiknya dolar, hampir semua perjalanan ke luar negeri di-pending," ungkap Syarif saat ditemui di TTC, Travel Mart 2015.

Senada dengan Syarif, para pemilik agen perjalanan yang melayani rute ke berbagai tujuan seperti Bangkok, Malaysia, Brunei Darussalam dan Filipina menuturkan hal yang sama.

" Jumlah permintaan berkurang hingga 60-70 persen. Orang-orang yang awalnya punya 60 juta berani berangkat sekarang memilih menunda saja dulu," tutur Anshor dari Mega Borneo Tour.

Selama tiga bulan terakhir, agen perjalanan milik Anshor memilih untuk kembali menggunakan rupiah agar dapat menekan biaya yang mereka tawarkan pada sejumlah calon wisatawan. Ditambah pula dengan perubahan layanan tranportasi dan hotel yang ditawarkan.

" Biasanya buat para mahasiswa kita tawarkan untuk menggunakan bus atau kapal. Selain itu, hotel juga diganti dengan barak dan tempat tidur susun," tambah Anshor.

Sementara untuk pelayanan tur ke beberapa negara Timur Tengah mereka lebih memilih untuk menurunkan biaya perjalanan tanpa mengurangi kualitas tur itu sendiri.

" Dampak yang dirasakan hingga 30 persen, jadi kami sebagai pelaku usaha kompak buat mengorbankan sebagian dari profit margin perusahaan," tutur Alvin Ng, pemilik consultant dan incentive organizer Christmas.

Alvin menilai peraturan dari Bank Indonesia (BI) yang mewajibkan pelaku usaha untuk menjual rupiah, semakin memperburuk kondisi bisnis pariwisata di tanah air. " Jadi yang bisa kita lakukan hanya menurunkan biaya hotel dan airlines saja sampai keadaan kembali normal," tuturnya pada Senin, 7 September 2015.

Meskipun sama-sama melayani penerbangan ke Timur Tengah, tapi nasib berbeda dialami para pemilik agen perjalanan yang melayani haji dan umrah. Mereka tak merasakan dampak yang begitu signifikan karena sektor wisata religi ini aman dari imbas kenaikan dollar.

" Karena memang orang yang memilih wisata religi kan jadi satu dengan umrah, jadi biasanya memang tabungan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Penurunan sedikit sekali nggak sampai 10 persen," ujar Maria Gorreti Limi menambahkan.

(Laporan: Ratih Wulan P.)

Beri Komentar