Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Melonjaknya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, membawa dampak yang cukup signifikan di bidang pariwisata. Beberapa agen tur dan travel mengeluhkan turunnya jumlah wisatawan religi yang menggunakan jasa mereka untuk berwisata ke luar negeri.
Seperti dituturkan Syarif Hidayat, pengelola Safira Tour & Travel ini merasakan dampak penurunan wisatawan hingga 90 persen. Ditambah dengan kebijakan baru dari pemerintah yang mengurangi kunjungan ke luar negeri.
" Pelanggan kami banyak dari pemerintahan yang melakukan kunker (kunjungan kerja) dan sudah dua tahun ini dibatasi hingga 50 persen. Ditambah dengan naiknya dolar, hampir semua perjalanan ke luar negeri di-pending," ungkap Syarif saat ditemui di TTC, Travel Mart 2015.
Senada dengan Syarif, para pemilik agen perjalanan yang melayani rute ke berbagai tujuan seperti Bangkok, Malaysia, Brunei Darussalam dan Filipina menuturkan hal yang sama.
" Jumlah permintaan berkurang hingga 60-70 persen. Orang-orang yang awalnya punya 60 juta berani berangkat sekarang memilih menunda saja dulu," tutur Anshor dari Mega Borneo Tour.
Selama tiga bulan terakhir, agen perjalanan milik Anshor memilih untuk kembali menggunakan rupiah agar dapat menekan biaya yang mereka tawarkan pada sejumlah calon wisatawan. Ditambah pula dengan perubahan layanan tranportasi dan hotel yang ditawarkan.
" Biasanya buat para mahasiswa kita tawarkan untuk menggunakan bus atau kapal. Selain itu, hotel juga diganti dengan barak dan tempat tidur susun," tambah Anshor.
Sementara untuk pelayanan tur ke beberapa negara Timur Tengah mereka lebih memilih untuk menurunkan biaya perjalanan tanpa mengurangi kualitas tur itu sendiri.
" Dampak yang dirasakan hingga 30 persen, jadi kami sebagai pelaku usaha kompak buat mengorbankan sebagian dari profit margin perusahaan," tutur Alvin Ng, pemilik consultant dan incentive organizer Christmas.
Alvin menilai peraturan dari Bank Indonesia (BI) yang mewajibkan pelaku usaha untuk menjual rupiah, semakin memperburuk kondisi bisnis pariwisata di tanah air. " Jadi yang bisa kita lakukan hanya menurunkan biaya hotel dan airlines saja sampai keadaan kembali normal," tuturnya pada Senin, 7 September 2015.
Meskipun sama-sama melayani penerbangan ke Timur Tengah, tapi nasib berbeda dialami para pemilik agen perjalanan yang melayani haji dan umrah. Mereka tak merasakan dampak yang begitu signifikan karena sektor wisata religi ini aman dari imbas kenaikan dollar.
" Karena memang orang yang memilih wisata religi kan jadi satu dengan umrah, jadi biasanya memang tabungan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Penurunan sedikit sekali nggak sampai 10 persen," ujar Maria Gorreti Limi menambahkan.
(Laporan: Ratih Wulan P.)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya