Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bursa Efek Indonesia (sumber: Http://merdeka.com)
Dream - Tren naik jangka pendek kembali menghampiri pasar modal Indonesia. Turunnya suku bunga China yang berimbas pada saham komoditas membuat indeks saham acuan nyaman di zona hijau.
Sentimen dari kawasan regional juga mengembalikan pemodal asing ke jalur belanja. Nett buy asing hingga sesi penutupan mencapai Rp 129 miliar.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 24 November 2014, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mantap menguat 29,71 poin (0,58%) menuju level 5.141,76.
Penguatan disokong naiknya harga saham darai 185 emiten di tengah koreksi harga 138 penghuni lantai bursa.
Aksi jual beli pemodal melibatkan tak kurang daru 64,27 juta saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 4,99 triliun.
Lantai bursa kini disemarakan oleh indeks saham acuan sektor yang bergerak naik. Hanya emiten bidang properti yang masih tertekan setelah melemah 0,44 persen.
Kenaikan indeks saham sektoral tertinggi dialami emiten industri aneka yang naik 1,76 persen, diikuti pertambangan 1,21 persen, dan industri dasar 1,13 persen.
Menguatnya IHSG membawa sinyal positif bagi pergerakan dua indeks saham syariah. Kedua indeks ini bahkan nyaman bergerak di zona hijau.
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) awal pekan ini ditutup menguat 1,49 poin (0,91%) menuju level 166,13. Kenaikan disokong menguatnya harga saham dari 116 emiten syariah sementara 86 lainnya tertinggal di zona merah.
Tercatat 32,71 juta saham diperdagangkan pelaku pasar dengan dana bergulir hingga Rp 3,48 triliun.
Sepanjang perdagangan ini, ISSI sempat menyentuh level tertinggi di 166,39. Pemodal yang sedikit berhati-hati dengan sentimen China ini membuat ISSI kembali turun dan menutup perdagangan di level 166,13.
Di jajaran emiten bluechips syariah, sebanyak 23 emiten bergerak di zona hijau. Sementara 5 lainnya melemah dan 2 emiten stagnan.
Dominasi kenaikan harga saham ini membuat Jakarta Islamic Index (JII) ditutup menguat 8,97 poin (1,32%) ke level 686,49.
Indeks JII melompat jelang sesi penutupan ketika pelaku pasar mencoba memborong saham-saham yang dianggap cukup menarik.
Dari kawasan regional, indeks saham utama Asia juga didominasi penguatan. Kecuali indeks Strait Times Singapura yang melemah 0,14 persen, seluruh indeks saham China dan Korea mengua di atas 1 persen
Kenaikan tertinggi dialami indeks Hang Seng yang menguat 1,95 persen diikuti Shanghai Composite 1,85 persen. Semntara Nikkei Jepang hanya naik 0,33 persen.
Di pasar keuangan, nilai tukar rupiah masih tertekan dan belum bergeser dari level 12.000 per dolar AS. Rupiah sore ini ditutup melemah tipis 2 poin (0,22%) ke level 12.148 per dolar AS. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya