Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Moschaict.com)
Dream - Serbuan begitu banyak produk asing, termasuk produk busana muslim yang harganya relatif murah, tidak menciutkan semangat bisnis para desainer busana muslim tanah air. Mereka tetap giat mengembangkan busana muslim asli Indonesia.
Dian Pelangi adalah salah satu desainer yang bersemangat itu. Wanita berusia 23 tahun ini yakin busana muslim ciptaannya bisa bersaing dengan produk asing di pasar dalam negeri.
" Tidak takut, karena kita punya plus minus. Untuk itu, kita terus berinovasi," tegasnya di Jakarta, 25 Juni 2014.
Yakin bisa bersaing, lanjut Dian, karena anak muda Indonesia telah memiliki kebanggan tersendiri menggunakan desain dalam negeri. " Kita peercaya diri, kita pakai, dan kita bangga," tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Ria Miranda. Desainer asal Minang ini mengungkapkan bahwa produk hasil desainer Indonesia memiliki kelebihan dibandingkan produk asing. Pasalnya, desain asli Indonesia tidak perlu tambahan modifikasi untuk disesuaikan dengan budaya dan kondisi negara ini.
" Kalau buatan sini kan bahannya juga adem karena menyesuaikan dengan cuaca Indonesia, jadi tidak perlu ditambah dengan manset atau apapun supaya bisa tertutup semua," jelasnya.
Lalu, bagaimana tanggapan para desainer muda ini terhadap persaingan dengan desainer manca negara yang kini juga sudah mulai merambah untuk merancang busana muslim?
" Untuk go internasional, Dian membuat desain yang disesuaikan dengan daerah masing-masing, seperti untuk Timur Tengah, Asia dengan jenis yang lebih simpel, Eropa dan Amerika bisa dengan jaket-jaket untuk musim dingin, jadi disesuaikan," papar Dian Pelangi.
Ria Miranda juga mengaku siap bersaing dengan desainer asing karena memiliki kualitas produk yang bisa diakui di dunia internasional.
" Kualitas kita perketat karena banyak yang membeli karena melihat kualitas. Kami perkuat di bahan, jahitan, desain yang inovatif dan bikin tren baru," paparnya.
Dalam mengembangkan bisnis busana muslim ini ke depan, Dian dan Ria mengungkapkan beberapa kendala yang bisa menghadang.
" Kendala kita di SDM-nya, nanti habis puasa saya akan fokus untuk mencari pekerja di sektor ini," jelas Dian.
Sementara Ria mengaku kendala bisnisnya lebih kepada pencarian bahan.
" Saya ingin menggunakan kain-kain lokal, tetapi masih susah untuk ke pengrajin lokal di daerah-daerah. Hal ini supaya bisa bersaing di luar negeri. Saat ini masih menggunakan kain asal Sumatera Barat," katanya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya