Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

IHSG Menguat, Indeks Syariah Kurang Tenaga

Reporter : Syahid Latif
Kamis, 26 Juni 2014 09:28
IHSG Menguat, Indeks Syariah Kurang Tenaga
Pelaku pasar memanfaatkan momentum rebound indek Dow Jones AS untuk melakukan aksi beli saham.

Dream - Bursa saham Indonesia kembali membuka perdagangan di zona positif setelah kemarin tak sanggup mempertahankan laju penguatan. Kenaikan ini seiring dengan laju bursa saham regional dan global yang juga menguat.

Pada sesi Pra pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, 26 Juni 2014, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 8 poin (0,17%) ke level 4.846,98.

Hingga 15 menit pertama perdagangan, IHSG masih bergerak di zona hijau meski asing membukukan nett sell tipis.

Kembalinya IHSG ke zona hijau sayangnya tak diikuti dua indeks acuan saham syariah di BEI. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dibuka melemah ke level 158,9. Namun penguatan harga saham dari 67 emiten syariah membuat ISSI bisa ikut menembus zona hijau.

Hingga perdagangan pukul 9.18 WIB, indeks ISSI bertengger di level 159,37. Nilai transaksi perdagangan di sesi pagi ini tercatat Rp 550,91 miliar.

Hal yang sama dialami indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII) yang dibuka melemah 0,03 poin ke level 651,59.

Dari kawasan Asia, Seluruh indeks saham utama pagi ini dibuka menguat. Indeks Hang Seng tercatat menguat 203,1 poin sementara Nikkei Jepang naik 49,5 poin.

Namun pelaku pasar tampaknya masih harus mewaspadai pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pagi ini rupiah memang dibuka menguat 15 poin, namun masih bertengger di level 12.075 per dolar AS.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo dalam ulasannya berharap rebound 49,38 poin (0,29 poin) yang terjadi pada indeks Dow Jones Industrial bisa memperbaiki sentimen perdagangan di lantai BEI.

Hingga perdagangan kemarin, bursa saham Indonesia memang masih terimbas oleh sentimen negatif menjelang pengumuman angka neraca perdagangan pada minggu depan.
" Sejauh ini, sentimen positif dari Pemilihan Presiden belum juga muncul sehingga pelaku pasar juga masih cenderung wait and see," katanya.

Beri Komentar