Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Investor Cemas, Indeks Syariah Mendekam di Zona Merah

Reporter : Syahid Latif
Kamis, 25 Juni 2015 16:21
Investor Cemas, Indeks Syariah Mendekam di Zona Merah
Pelaku pasar cemas dengan kondisi Yunani yang ditutup melemah dan berimbas pada bursa regional.

Dream - Indeks acuan saham syariah akhirnya mendekam di zona merah sepanjang sesi perdagangan. Kecemasan pelaku pasar dipicu laju bursa regional yang melemah.

Empat sektor saham menjadi sasaran aksi jual investor. Lantai bursa hanya menyisakan emiten perkebunan di zona hijau.

Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis, 25 Juni 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terkoreksi 1,220 poin (0,76%) ke level 158,816.

Sepanjang perdagangan, indeks acuan saham syariah di BEI ini mendekam di zona merah. ISSI mencapai posisi terendahnya di sesi penutupan dan sempat menguat ke level tertinggi di 159,750.

Laju ISSI terseret oleh pelemahan harga saham yang melanda 109 emiten syariah. Beruntung masih ada kenaikan harga saham dari 64 emiten yang menahan ISSI turun lebih dalam.

Transaksi perdagangan saham syariah mencetak angka Rp 3,15 triliun denan 36,56 miliar saham yang beralihtangan.

Kondisi tak jauh berbeda dialami saham-saham bluechips syariah. Terkoreksi 6,581 poin (0,99%), Jakarta Islamic Index (JII) ditutup melemah di level 659,790.

Dari 30 emiten JII, lebih dari separuhnya atau 18 emiten bergerak melemah. Sisanya, 11 emiten unggulan syariah ditutup menguat dan 1 lainnya stagnan.

Emiten bluechips syariah yang menghuni daftar top gainer kali ini adalah SILO yang menguat Rp 300 per saham. Disusul, AALI yang naik Rp 275, AKRA Rp 200, SSMS Rp 45, dan ASRI Rp 40 per saham.

Sementara motor penggerak JII justru menghadapi tekanan dan masuk daftar top losser. Diantaranya, UNTR yang melemah Rp 1.350, UNVR Rp 625, LPPF Rp 350, SMGR Rp 200, da INDF Rp 150 per saham.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sore ini juga ditutup melemah 33,474 poin (0,68%) ke level 4.920,042.

Lantai bursa mencetak transaksi bernilai Rp 5,2 triliun dengan Rp 150 miliar diantaranya merupakan nett sell asing.

Beri Komentar