Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Presiden Jokowi Saat Berdiskusi Dengan Warga Indonesia Di AS (Facebook)
Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai Indonesia telah ketinggalan tiga kali booming yang gagal dimanfaatkan pemerintah. Bahkan hal itu diakui merupakan salah satu kesalahan besar INdonesia.
Tiga booming yang disebutkan Jokowi tersebut adalah Booming minyak sekitar tahun 1975-an, booming kayu di tahun 1980-an, dan terakhir booming Mineral dan Batu Bara (Minerba).
“ Ini kesempatan ini yang sudah mungkin setengah, hampir, itu sudah hampir, untungnya belum habis. Jadi kita masih, alhamdulillah masih bisa sedikit memanfaatkan peluang ini,” ujar Presiden Jokowi saat menggelar dialog dengan warga Indonesia di Amerika Serikat seperti dikutip dari laman setkab, Senin, 26 Oktober 2015.
Menurut Jokowi, selama booming tersebut Indonesia terlena karena tidak menyiapkan industri pendukung, investasi, dan hilirisasi. Akibatnya, Indonesia hanya bertumpu pada ekspor barang mentah.
“ Itulah kesalahan, menurut saya kesalahan besar kita. Ini yang sekarang mulai akan kita kerjakan, sudah mulai sebagian kita kerjakan, dan mungkin akan mulai kelihatan pada tahun-tahun ketiga,” kata Presiden Jokowi.
Selama booming minyak, Indonesia dianggap tidak menyiapkan sebuah pondasi yang baik dalam industri ini. Dilanjutkan dengan booming kaya yang hanya membuat kekayaan hutan di Tanah Air habis.
Untuk booming Monerba, Jokowi mengaku Indonesia telah kehilangan setengah dari peluangnya.
Untuk mencegah terjadinya kesalahan yang sama, pemerintah berjanji akan memanfaatkan booming yang ada dengan fokus pada pengembangan infastruktur dan pangan.
Pemerintahannya juga bertekad mengubah fundamental Indonesia yang bertitik berat pada konsumsi menjadi produksi.
" Dari konsumsi ke produksi, dari konsumsi ke investasi, dari konsumsi ke industri, dari konsumsi ke hilirisasi,” tegas Jokowi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya