Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pedagang Valas Di Pinggiran Jalan (antarafoto.com)
Dream - Pengakuan mengejutkan meluncur dari pejabat di jajaran bank sentral di Indonesia. Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan BI sudah mati-matuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
" Saat ini, kami Bank Indonesia itu tidak hanya khawatir, BI sudah mati-matian malah dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," ungkap Perry Warjiyo di kantornya, Selasa, 18 Agustus 2015.
Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) memang terus ambruk. Dollar AS bahkan sudah menyentuh level Rp 13.800.
Menurut Perry, BI sudah melakukan berbagai upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Kekhawatiran semakin meningkat karena nilai tukar Rupiah saat ini diakui sudah melampaui batas fundamentalnya (undervalue).
Tak mau pelemahan terus berlanjut, BI memastikan akan selalu berada di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar mata uang nasional tersebut. Operasi moneter pun dilakukan dalam bentuk penyerapan atau penambahan likuiditas perbankan untuk menjaga kecukupannya dalam sistem keuangan.
Diakui Perry, nilai tukar Rupiah yang sudah menyentuh Rp 13.800 sungguh di luar perkiraan. Beberapa kebijakan pun ditempuh untuk mengembalikan Rupiah ke level fundamentalnya.
Sejumlah kebijakan itu diantaranya memaksimalkan instrumen Surat Berharga Indonesia (SBI), FX Swap serta mengintervensi pasar valuta asing dan pasar sekunder.
Meski demikian, Perry memastikan stabilitas makroekonomi Indonesia cenderung dapat terjaga dengan baik. Indikasinya terlihat dari situasi fiskal yang masih berada dalam kondisi yang terkendali.
“ Tidak mungkin fiskal pusat itu sampai 2,5 persen. Ini adalah modal stabilitas ekonomi makro, karena dari sisi fiskal itu tetap terjaga,” ujar Perry.
Tingkat defisit transaksi berjalan Indonesia juga diakui menjadi modal Indonesia menghadapi perlambatan ekonoi global. Serta laju inflasi yang masih berada dalam perkiraan otoritas.
“ Jadi aspek stabilitas makro kita itu sebenarnya menunjukkan baik dan terjaga,” pungkasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya