Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Kenaikan Gaji Sejatinya Tak Pernah Ada Sampai 2017

Reporter : Syahid Latif
Selasa, 30 September 2014 08:30
Kenaikan Gaji Sejatinya Tak Pernah Ada Sampai 2017
Studi dari Ernst & Young Item Club menelusuri hubungan antara gaji dan laju inflasi. Bagaimana dengan Indonesia?

Dream - Mulai saat ini ada baiknya Anda mulai mencoba-coba membaca data-data inflasi yang setiap bukan dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS). Hal ini menjadi penting karena kenaikan gaji yang diterima selama ini sebetulnya semu belaka.

Pelajaran ini setidaknya dialami para pegawai di negara makmur, Inggris. Alih-alih mendapat kenaikan gaji, para pegawai Inggris sebetulnya telah satu dekade tak menikmati penambahan pendapatan.

Sebuah studi dari lembaga ekonomi terkemuka, Ernst & Young Item Club melaporkan, keluarga di Inggris sebetulnya tengah menghadapi krisis biaya hidup usai berakhirnya krisis keuangan dunia.

Rata-rata tambahan pendapatan penduduk Inggris pada 2017 sebetulnya tak kurang dari 1.000 pound sterling, atau 5 persen lebih rendah dibandingkan 2008, atau saat inflasi mulai menggerogoti keuangannya.

Analisa Item Club menunjukan penghasilan bersih yang diterima rata-rata pekerja Inggris pada 2008 ditaksir mencapai 18.852 pound sterling.

Setelah inflasi terus menggerogoti simpanan, pendapatan riil para pekerja Inggris tahun lalu sebetulnya turun menjadi 17.713 pound sterling dan turun kembali menjadi 17.611 pound sterling pada tahun ini.

Beruntung pada 2017, gaji para pekerja Inggris ini sedikit naik menjadi 17.827 pound sterling.

Sayangnya, kenaikan ini sebetulnya lebih rendah 1.025 pound sterling atau 0,54 persen dibandingkan 2008. Kondisi ini membawa keluarga Inggris pada realitas lebih parah dibandingkan sebelum krisis.

" Keluarga di Inggris kini menghadapi dekade gaji rill yang hilang dalam satu dekade, yang berarti pengeluaran lebih rendah jika merujuk pada standar sepanjang sejarah," kata Penasihat Ekonomi Senior Item Club, Martin Beck.

Beck menjelaskan, total pemasukan keluarga semakin menguat karena banyak orang yang bekerja. Namun individual ini tak memiliki uang lebih dalam dompetnya.

Studi berbeda dari Center for Policy Studies menunjukan krisis biaya hidup sebetulya sudah dimulai sejak dibawah aturan baru pemerintah pada 2007.

Beri Komentar