Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Laju indeks saham syariah di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya menutup perdagangan awal pekan di zona hijau. Penguatan yang relatif flat ini tertahan aksi jual pemodal asing yang masih cukup besar.
Sepanjang perdagangan kali ini, laju indeks bursa saham Indonesia memang sangat fluktuatif. Beberapa kali indeks saham syariah harus terperosok masuk zona merah.
Pada penutupan perdagangan BEI, Senin, 29 September 2014, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) hanya naik sangat tipis 0,01 poin (0,01%) ke level 167,03. Indeks ISSI membuka perdagangan di zona merah di level 166,61.
Kenaikan tipis indeks ISSI tak terlepas dari koreksi harga saham yang melanda 116 emiten syariah. Penguatan harga saham dari 80 emiten ISSI tak cukup membawa indeks menguat lebih tinggi.
Transaksi perdagangan saham syariah kali ini mencapai Rp 2,8 triliun dari aksi jual beli 32,13 miliar saham.
Indeks ISSI memang lebih banyak menghabiskan waktu perdagangannya di zona merah. Beruntung aksi beli investor jelang sesi penutupan berhasil mengangkat ISSI ke zona hijau.
Kondisi lebih baik dialami indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII). Indeks JII menutup perdagangan dengan menguat 1,85 poin (0,27%) ke lebel 689,48. Turunnya harga saham dari 16 emiten penghuni JII tak cukup kuat menyeret indeks kembali masuk zona merah.
Pelaku pasar tercatat mentransaksikan 5,43 miliar saham unggulan syariah dengan perputaran uang mencapai Rp 1,65 triliun.
Secara keseluruhan, bursa saham Indonesia memang didominasi penguatan. Indeks acuan pasar modal Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sore ini menutup perdagangan dengan menguat 9,44 poin (0,18%) ke lebel 5.142,01.
Penguatan IHSG kali ini disokong kenaikan harga saham dari 127 emiten sementara 194 lainnya masih tertinggal di zona merah.
Hingga sesi paska penutupan perdagangan, nilai perputaran uang di lantai bursa mencapai Rp 4,61 triliun. Sebanyak 56,2 miliar saham diperdagangkan pelaku pasar.
Pemodal asing tampaknya masih menunggu adanya kepastian kondisi politi di tanah air jelang pelantikan presiden terpilih Joko Widodo. Asing membukukan nett sell sekitar Rp 565,04 miliar.
Indeks sektor saham kali ini bergerak seimbang dengan penguatan dan pelemahan masing-masing dialami oleh 5 sektor saham. Penguatan tertinggi dialami emiten perbankan yang menguat 0,77 persen sementara terendah diderita emiten perkebunan yang turun 0,85 persen.
Di jajaran penghuni indeks ISSI, emiten pencetak kenaikan harga saham tertinggi (top gainer) dihuni oleh AKRA yang menguat Rp 125, CPIN Rp 105, ACST Rp 100, ASII Rp 50, dan BYAN Rp 25 per saham. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya