Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

KPR Masih `Idola`

Reporter : Ramdania
Rabu, 13 Agustus 2014 18:03
KPR Masih `Idola`
Bank Indonesia (BI) mencatat konsumen lebih memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dalam transaksi pembelian rumah.

Dream - Bank Indonesia (BI) menyebutkan dalam survei harga rumah, bahwa fasilitas KPR tetap menjadi pilihan utama dalam melakukan transaksi pembelian rumah. Sebanyak 73,69 persen konsumen menggunakan fasilitas ini untuk membeli rumah terutama rumah tipe kecil.

" Tingkat bunga KPR yang diberikan oleh perbankan khususnya kelompok bank persero berkisar antara 9-12%," tulis survei itu, Rabu, 13 Agustus 2014.

Saat ini suku bunga tertinggi KPR terjadi di Sumatera Utara yaitu 12,16 persen, sedangkan suku bunga KPR terendah berada di Kepulauan Bangka Belitung yaitu 8,95 persen.

Peningkatan pertumbuhan penjualan rumah tercermin dari naiknya angka pertumbuhan penyaluran kredit perbankan ke sektor properti. Pada kuartal dua tahu8n ini, total KPR tercatat Rp 301,53 triliun atau tumbuh sebesar 5,93 persen, jika dibandingkan dengan 3 bulan awal tahun ini yang hanya tumbuh 1,14 persen,dan pertumbuhan total kredit perbankan yang hanya 2,8 persen.

Dari total KPR yang dikucurkan oleh bank dari April hingga Juni 2014, sebanyak 4,36 persen masyarakat berpenghasilan rendah yang memanfaatkan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dari pemerintah. Selebihnya yaitu sebnayak 95,64 persen melalui KPR biasa (non-FLPP).

Pencairan FLPP sampai dengan kuartal dua tahun ini tercatat sebesar 22,41 persen dari total dana yang ditargetkan selama tahun 2014. Sisa dana yang belum terserap di 2013 yaitu sebesar Rp 4,5 triliun.

Dengan demikian, terdapat 77,59 persen dana yang belum dimanfaatkan masyarakat berpenghasilan rendah. Dana itu dinilai cukup untuk membiayai 90 ribu unit rumah.

Keuntungan menggunakan FLPP adalah masyarakat berpenghasilan rendah dapat memperoleh cicilan rumah dengan bunga tetap sebesar 7,25 persen, dengan jangka waktu cicilan maksimum 20 tahun.

Sementara itu dari sisi pengembang properti, sebanyak 62,35 persen responden mengungkapkan, hingga saat ini dana internal perusahaan tetap menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti.

Berdasarkan komposisi, sumber pembiayaan pembangunan properti dari dana internal perusahaan sebagian besar berasal dari modal disetor yaitu sebanyak 42,38 persen, laba ditahan sebanyak 34,87 persen, dan joint venture sebanyak 3,75 persen. (Ism)

Beri Komentar