Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Dollar AS.
Dream – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih tertekan. Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), kurs mata Negeri Paman Sam ini bahkan sudah menyentuh level Rp15.400.
Untuk diketahui, NDF atau perdagangan mata uang berjangka rupiah merupakan suatu kontrak forward jangka pendek. Kontrak ini biasanya berjangka waktu satu bulan hingga setahun.
Pihak yang melakukan transaksi ini bisanya menyepakati kontrak menyerahkan uang masing-masing berdasarkan kurs yang telah disepakati di muka. Dalam NDF, yang diserahkan cukup keuntungan atau kerugian berdasarkan selisih nilai tukar yang telah disetujui dengan nilai tukar di pasar spot saat kontrak jatuh tempo.
Dikutip dari laman Investing, Jumat 5 Oktober 2018, nilai tukar dollar terhadap rupiah pada hari ini menembus level Rp15.413. Permintaan ini terjadi pada pukul 04.00-07.30 hari ini.

Berbeda dengan NDF, nilai tukar dollar AS di pasar spot onshore menyentuh level Rp15.189 ribu ketika perdagangan dibuka.
Dilansir dari Bloomberg pada pukul 11.50, dollar berada di level Rp15.185. Kursnya menguat 6 poin (0,04%). Dollar juga sempat menyentuh level Rp15.193.

Sementara data perdagagan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dimiliki Bank Indonesia mencatat dollar AS rata-rata diperdagangkan di level Rp15.182, melemah 49 poin dari perdagangan kemarin Rp15.133 per dollar AS.
Data JISDOR mencatat rupiah telah bertahan di level 15.000 dalam tiga hari terakhir saat pertama kali menyentuh level 15.088 pada Rabu, 3 Oktober 2018.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan pelemahan rupiah belumn begitu berdampak pada industri nasional.
“ Kalau soal itu pertanyaannya, dampaknya pasti ada. Tapi, coba kita lihat inflasi. Apa imported inflationnya sudah besar? Belum,” kata Darmin di Jakarta, dilansir dari Merdeka.com.
Darmin mengatakan ketergantungan Indoensia terhadap impor sebesar 30 persen. Pelemahan rupiah belum berdampak besar terhadap kenaikan harga. Hal ini terlihat dari core inflation yang disumbang oleh imported inflation masih terjaga di sekitar 2 persen.
“ Kalau kamu lihat core inflation, yang imported, kan, ada di dalam situ. Year to date, masih sekitar 2 koma sekian persen. Jadi, ada kenaikan tapi tidak banyak. Saya tidak bisa bilang berapa karena harus dihitung dulu dalam core inflation itu sebenarnya berapa persen yang impor,” kata dia.
Darmin mengatakan pelemahan nilai tukar yang fluktuatif ini merupakan gemuruh yang hebat. Dampaknya ke sektor riil belum besar.
“ Sebenarnya dampak riilnya tidak terlalu besar. Ekonomi dunia itu diperkirakan turunnya tidak banyak. Tapi, ada yang harus dijaga. Bukan yang itu. Karena kita terganggu capital flow-nya,” kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya