Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Percetakan Uang Oleh Perum Peruri
Dream - Upaya keras pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas rupiah belum usai. Setelah terpuruk di akhir tahun lalu, kurs rupiah terhadap dolar AS kini kembali bergolak.
Kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pagi ini berada di kisaran 12.796 per dolar AS untuk kurs beli. Sementara kurs jual di level 12.668 per dolar AS.
Sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI mencatat rupiah berada di level 12.732 per dolar AS.
Ambruknya nilai tukar rupiah di awal tahun ini merupakan yang terburuk diantara mata uang asing negara-negara Asia.
Investor asing tampaknya mulai dibuat panik dengan sentimen negatif global. Akibatnya, para pemilik dana mencoba melarikan dananya ke surat utang pemerintah dan dolar AS.
Data Bloomberg mencatat rupiah pagi tadi turun 0,6 persen menjadi 12.740 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat menyentuh level 12.759 per dolar atau terendah sejak 17 Desember 2014. Di awal tahun ini, kurs rupiah telah jatuh hingga 2,8 persen.
" Kami melihat rupiah dalam tren turun menuju level 13.000 pada kuartal ini seiring pasar mengantisipasi pertemuan The Fed. Selanjutnya rupiah akan stabil di level tersebut," kata Ekonom dari BNI Securities, Heru Irvansyah seperti dikutip Dream dari laman Bloomberg, Rabu, 7 Januari 2015.
Menurut Heru, jika harga minyak mentah dunia tetap berada di level mendekati US$ 50 per barel, rupiah kemungkinan akan terus berada dalam tekanan. Alasannya, investor mulai menjual aset yang berisiko dan mengalihkannya pada instrumen safe heaven (aman).
Tanda-tanda penarikan dana asing setidaknya sudah terlihat di pasar modal Indonesia. Di awal Januari ini, asing telah menjual portofolio sahamnya tak kurang US$ 46,7 juta. Di akhir Desember lalu, asing telah menarik dana hingga US$ 634 juta.
Di pasar kontrak satu bulan, one month non delivered forward, rupiah tercatat sudah terkulai lemas hingga 0,8 persen menjadi 12.864 per dolar AS.
BI sendiri mematok nilai tukar kontrak di level 12.732 atau naik dari kemarin di 12.658 per dolar AS. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya