Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Sampah Dibakar, Mikroplastik di Udara Mengintai
Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih
Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan
Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Ilustrasi
Dream - Tahun 2014 menjadi era luar biasa bagi industri keuangan dan perbankan syariah. Tidak hanya melampaui batas aset US$ 2 triliun, industri syariah juga mendapat akses ke pasar baru termasuk di kawasan Eropa, Korea, Australia, Brasil, Malta, Argentina, Tiongkok dan banyak lagi.
Perbankan dan keuangan syariah tidak hanya memperoleh popularitas di pasar tradisional misalnya di Malaysia, Pakistan dan Timur Tengah. Tapi negara-negara yang baru-baru ini masuk ke perbankan dan keuangan syariah juga telah menunjukkan kemajuan yang sangat baik.
Muhammad Zubair Mughal, CEO AlHuda Centre of Islamic Banking and Economics (CIBE) seperti dikutip Dream dari laman Zawya, Rabu, 7 Januari 2015, mengatakan bahwa industri syariah kemungkinan nilainya melebihi US$2,5 triliun pada tahun ini, naik dari tahun 2014 yang mencapai US$2,1 triliun. Kenaikan tersebut, menurut Mughal, adalah peningkatan bersejarah dalam satu tahun.
Mughal menilai, anjloknya pasar sukuk pada 2013 secara perlahan mulai pulih pada 2014. Bahkan ada peluang besar pertumbuhan pasar sukuk di tahun 2015 yang diperkirakan mencapai US$ 150 miliar. Pangsa pasar industri pembiayaan syariah juga memiliki potensi besar hingga US$ 100 miliar.
Di bisnis asuransi syariah (takaful), CIBE melihat peluang cerah dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 15 persen. Kontribusi takaful global akan mencapai US$ 20 miliar selama tahun ini dengan Tanzania, Namibia, Maroko, dan India sebagai pasar baru.
Tak hanya bisnis besar, 2015 juga menjadi harapan bagi masyarakat miskin. Alasannya, 2015 akan menjadi tahun yang baik bagi pertumbuhan industri keuangan mikro syariah yang telah dianggap sebagai pilihan untuk pengentasan kemiskinan.
Banyak lembaga multilateral mempromosikan keuangan mikro syariah dengan bantuan dukungan dari pemerintah di berbagai negara seperti Pakistan, Yaman, Afghanistan, Sudan, Malaysia dan lain-lain.
Sementara di bisnis bank syariah, CIBE menilai 180 juta warga muslim dunia makin menantikan kehadiran perbankan syariah selama bertahun-tahun. Terbukti India mulai menjajaki industri keuangan dan perbankan syariah. Ada juga kemajuan menonjol terkait perbankan syariah di Amerika, terutama di pasar sukuk dan pasar modal.
Di Tiongkok ada harapan diversifikasi pasar modal dan pasar investasi. Dubai yang menjadi pusat keuangan syariah global akan tetap pada posisinya dan Kuala lumpur akan keluar dari persaingan tersebut. Hal itu tercermin dari pidato Perdana Menteri Malaysia Najib Razaq baru-baru ini di World Islamic Economic Forum ke-10 yang diselenggarakan pada 28 Oktober 2014. PM Najib Razaq mengatakan, Dubai ia akui sebagai pusat global keuangan dan ekonomi Islam.
Advertisement

3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya

Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil


Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?