Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Umat Muslim Di Rusia
Dream - Di tengah usaha mengembalikan ekonomi yang terpuruk dan menarik investasi dari luar negeri, Rusia mulai melirik sistem keuangan syariah.
Sektor ini baru mulai tumbuh di Rusia dan prospeknya menjadi bahan pembahasan di Forum Gaidar di Moskow baru-baru ini. Forum Gaidar adalah salah satu konferensi ekonomi tahunan berskala global yang selalu digelar di Rusia.
Awal penerapan keuangan syariah di Rusia dimulai melalui proyek percontohan di Republik Tatarstan, negara bagian Rusia yang penduduknya mayoritas Muslim. Republik Tatarstan diklaim memiliki infrastruktur dan basis klien yang sudah mapan sehingga memiliki banyak peluang bagi calon mitra dari negara-negara Teluk Arab.
Rusia adalah salah satu negara dengan jumlah Muslim yang lumayan besar. Populasi Muslim asli di Rusia mencapai sekitar 20 juta jiwa. Rupanya, Rusia ingin meniru Inggris dalam mengembangkan sistem keuangan syariah karena Negeri Ratu Elizabeth tersebut telah menerbitkan sumber pendanaan infrastruktur berbasis obligasi syariah atau sukuk.
Perbankan syariah hanya menguasai lima persen dari seluruh pasar keuangan di Rusia. Namun Negara Beruang Merah itu kemungkinan bisa menyusul negara tetangga Kazakhstan yang berencana menguasai pasar keuangan syariah sebesar 10 persen pada 2020.
Awalnya Rusia berencana untuk memperkenalkan perbankan syariah selama krisis tahun 2008, saat negara tersebut mulai mencari sumber pendanaan alternatif. Namun, karena tidak terlalu akrab dengan perbankan syariah, bank sentral Rusia VTB tidak berhasil mengeluarkan sukuk yang direncanakan terbit pada tahun 2009.
Republik Tatarstan sendiri dikenal telah membina hubungan ekonomi yang dekat dengan negara-negara kawasan Teluk selama bertahun-tahun. Delegasi dari kedua negara bahkan berpartisipasi dalam forum bisnis dan keuangan Islam global 'Kazan Summit' yang secara teratur digelar di ibukota Tatarstan, Kazan.
Beberapa negara Teluk juga telah memberikan bantuan uang senilai US$ 760 juta untuk pembangunan 'Kazan Smart City', yang merupakan proyek pusat bisnis ambisius Tatarstan yang dikerjakan oleh Tatarstan Gulf Investment Company.
Bahkan, Tatarstan telah mendirikan bank Islam pertama di Rusia bernama Ak Bars Bank. Bank murni syariah satu-satunya di Rusia ini telah menarik sejumlah investasi dari Teluk, termasuk mendapat suntikan dana US$ 60 juta pada 2011 dan US$ 100 juta pada 2013.
Dan untuk pertama kalinya, Republik Tatarstan berpartisipasi di dunia keuangan Islam dengan menerbitkan sukuk pada 2015 untuk membiayai pembangunan pusat bisnis utama di Kazan.
Penerbitan perintis tersebut dilakukan pada bulan April 2015 antara konsorsium Malaysia-Rusia dan pemerintah Tatarstan saat digelar Kazan Sukuk Conference. Perjanjian kerja sama tersebut berfungsi sebagai peta jalan untuk pembukaan bank syariah atau jendela perbankan syariah di republik ini.
Pembentukan Kazan sebagai pusat keuangan Islam akan membantu memperluas sektor perbankan syariah untuk Muslim dan non-Muslim di wilayah Rusia lainnya.
Jika rencana Tatarstan ini berhasil, maka akan banyak negara bagian lainnya yang akan mengikuti. Dagestan adalah wilayah kedua di Rusia yang sedang melakukan upaya serius untuk menerapkan perbankan syariah dan menarik investor.
Meski memiliki prospek cerah, keuangan syariah di Rusia saat ini masih menghadapi kendala terutama dari sisi regulasi. Tidak ada undang-undang maupun rancangan undang-undang yang mengatur sektor keuangan syariah di Rusia.
Selain itu di Rusia juga tidak ada kerangka hukum yang memungkinkan regulator negara itu untuk mendukung terciptanya bank syariah. Dengan demikian, investasi di lapangan akan bersifat jangka panjang karena akan memakan waktu lama untuk menghadirkan undang-undang baru yang mendukung perbankan syariah.
(Sumber: albawaba.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya