Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Bursa saham syariah bergerak di dua zona di awal perdagangan. Pergerakan indeks utama regional yang cenderung flat membuat investor menahan diri melakukan aksi beli.
Pelaku pasar juga menantikan pengumuman data terbaru inflasi yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS).
Pada prapembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 1 Maret 2016, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) melemah 0,131 poin (0,09%) ke level 151,016.
Koreksi tipis juga dibukukan indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamis Index (JII), yang turun 0,714 poin (0,11%) ke level 641,146.
Di sesi pembukaan, kondisi belum berubah banyak. Meski mulai menguat, ISSI masih terkoreksi 0,113 poin (0,07%) ke level 151,034. Sedangkan JII melemah 0,621 poin (0,10%) ke level 641,239.
volume transaksi perdagangan saham syariah pagi ini mencapai 42,59 juta saham dengan nilai transaksi Rp 13,3 miliar. Aksi beli mendorong 14 emiten syariah ke zona hijau namun 12 lainnya masih tertekan aksi jual.
Sebagian besar indeks sektoral bergerak melemah dipimpin emiten perdagangan yang turun 0,73 persen, barang konsumsi 0,37 persen, dan keuangan 0,27 persen.
Sementara saham komoditas, pertambangan dan pertanian, masih menguat 0,38 persen dan 0,20 persen. Penguatan juga dialami indeks sektor industri aneka 0,32 persen dan properti 0,08 persen
Tekanan bursa saham Indonesia juga masih datang dari aksi jual asing yang memulai sesi perdagangan dengan nett sell Rp 2,56 miliar.
Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo memperkirakan bursa saham Indonesia, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan melanjutkan tren naiknya untuk menguji level psikologis 4.800.
Satrio menjelaskan, pasar modal Indonesia pagi ini harus menghadap sentimen pelemahan indeks Dow Jones yang terkoreksi 123,47 poin (),74%) akibat buruknya data manaufaktur.
" Akan tetapi, pergerakan dari indeks di bursa kawasan Asia pagi ini malah cenderung bergerak flat-naik, sebagai respon atas langkah Bank of China memberikan stimulus berupa penurunan Giro Wajib Minimum yang dilakukan kemarin," katanya.
Menurut Satrio, pelaku pasar hari in akan mengawasi pengumuman data inflasi yang dikeluarkan BPS. Konsensus ekonomi memperkirakan pada bulan Februari bakal terjadi deflasi sebesar 0,11 persen.
" Jika memang demikian adanya, maka akan muncul sentimen positif dari pelaku pasar yang berharap bahwa Bank Indonesia akan kembali menurunkan bunga acuan BI Rate," ujar dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya