Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Sampah Dibakar, Mikroplastik di Udara Mengintai
Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih
Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan
Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Ilustrasi
Dream - Pasar surat utang syariah (Sukuk) tampaknya tidak akan menikmati masa-masa manisnya di tahun mendatang. Investor senantiasa memilih investasi lain yang menjanjikan imbal balik lebih tinggi.
Permintaan sukuk di kawasan Teluk dan Asia Tenggara terus tumbuh melebihi suplai sehingga menimbulkan ketidakseimbangan yang justru menurunkan nilai sukuk. Penerbitan sukuk juga menjadi sumber pendanaan yang menarik bagi korporasi dan negara.
Sepanjang tahun ini, pasar keuangan dunia dipenuhi penerbitan sukuk dari emiten debutan seperti Hong Kong, Inggris, Luxemburg dan Afrika Selatan. Pasar sukuk makin ramai dengan penerbitan dari negara-negara berkembang.
Aktifnya penerbitan surat utang berbasis syariah ini membuat outstanding sukuk global pada 2015 menjadi antara US$ 150 miliar hingga US$175 miliar. Angka ini melebihi nilai sebelumnya pada 2012 yang mencapai US$ 137 miliar.
Tapi dinamika pasar nampaknya mulai berubah tahun depan, menurut sebuah survei terhadap investor dan penerbit sukuk yang dilakukan selama Juli dan Agustus.
Mengutip laporan terbaru World Islamic Banking Competitiveness Report 2014-2015 yang dikeluarkan Ernst & Young seperti dikutip Alarabiya.net, Jumat, 5 Desember 2015, dari 105 responden investor, hampir setengahnya hanya akan mengalokasikan dana 5 sampai 25 persen untuk sukuk.
Jumlah tersebut lebih rendah dari hasil survei tahun lalu ketika rata-rata investor akan mengalokasikan antara 25 hingga 35 persen untuk sukuk.
Penurunan tersebut kemungkinan disebabkan ekspektasi yang lebih tinggi terhadap tingkat suku bunga dan pemulihan ekonomi di pasar Barat.
Kebangkitan pasar ekuitas akan mendorong pergeseran tren sukuk. Sebanyak 40 persen investor akan menanamkan investasinya kurang dari US$ 25 juta pada produk sukuk. Dengan tiga perempat sisanya akan menyisihkan US$ 25 juta hingga US$ 75 juta.
Faktor lainnya adalah keengganan investor untuk membeli struktur baru, dengan seperempat dari responden tidak tertarik membeli sukuk hybrid, sementara 45 persen mengatakan akan lebih memilih sukuk berbasis proyek.
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih

Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil


Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?