Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
© Pexels.com/Ian Panello
DREAM.CO.ID - Memiliki rumah sering dianggap sebagai salah satu tanda keberhasilan dalam hidup. Rumah sendiri bukan hanya memberikan tempat tinggal, tetapi juga dianggap sebagai simbol kemandirian dan kestabilan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara kepemilikan rumah dan kebahagiaan ternyata tidak sesederhana anggapan tersebut.
Pemilik rumah memang cenderung merasa lebih puas terhadap tempat tinggalnya dibandingkan penyewa. Namun, kepuasan terhadap rumah tidak selalu berarti kepuasan terhadap kehidupan secara keseluruhan. Faktor seperti beban cicilan, kestabilan tempat tinggal, kondisi ekonomi, dan hubungan sosial justru ikut menentukan bagaimana seseorang merasakan kehidupannya.
Salah satu penelitian jangka panjang di Jerman menemukan bahwa orang yang pindah ke rumah milik sendiri mengalami peningkatan kepuasan terhadap tempat tinggal. Perasaan tersebut juga relatif bertahan bahkan setelah lima tahun. Namun, penelitian Jerman lainnya menemukan bahwa membeli rumah meningkatkan kepuasan terhadap hunian, tetapi tidak memberikan dampak jangka panjang terhadap kepuasan hidup secara keseluruhan.
Masalahnya, membeli rumah sering disertai utang dalam jumlah besar. Dalam salah satu penelitian, biaya membayar cicilan rumah justru menurunkan kepuasan hidup sehingga menghapus manfaat psikologis dari kepemilikan rumah. Studi lain yang menggunakan data Amerika Serikat, Inggris, dan Australia juga menemukan bahwa kesenjangan kebahagiaan antara pemilik dan penyewa terutama terlihat pada orang yang sudah memiliki rumah tanpa utang. Bagi pemilik rumah yang masih memiliki cicilan dan hanya memiliki sedikit ekuitas, keunggulan tersebut jauh berkurang.
Hubungan antara status tempat tinggal dan kondisi psikologis juga terlihat dalam kehidupan sosial. Jajak pendapat terhadap lebih dari 10.000 orang dewasa di Inggris menemukan bahwa 40 persen penyewa melaporkan merasa kesepian, dibandingkan 29 persen orang yang memiliki rumah tanpa cicilan. Penyewa juga lebih jarang mengenal tetangga dan lebih jarang merasa puas dengan hubungan pertemanan mereka.
Namun, angka tersebut tidak berarti bahwa menyewa rumah secara langsung menyebabkan kesepian. Penyewa dalam jajak pendapat tersebut cenderung lebih muda, memiliki pendapatan lebih rendah, dan lebih sering berpindah tempat tinggal. Faktor-faktor tersebut sendiri dapat berkontribusi terhadap rasa kesepian.
Penelitian lain bahkan menemukan hubungan antara kondisi tempat tinggal dan tanda biologis penuaan. Dalam studi terhadap sekitar 1.400 orang dewasa di Inggris, penyewa rumah secara privat menunjukkan pola metilasi DNA yang dikaitkan dengan usia biologis lebih tua dibandingkan pemilik rumah. Namun, penelitian tersebut bersifat observasional sehingga tidak dapat membuktikan bahwa menyewa rumah menyebabkan proses penuaan berlangsung lebih cepat.
Petunjuk yang lebih konsisten justru muncul ketika peneliti melihat ketidakstabilan tempat tinggal. Tinjauan terhadap 22 penelitian menemukan bahwa sering berpindah rumah atau menghadapi ancaman pengusiran berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang lebih buruk dalam sebagian besar studi yang meneliti hubungan tersebut. Sewa yang tinggi juga dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih buruk dalam sejumlah penelitian.
Dengan kata lain, persoalannya mungkin bukan sekadar apakah seseorang memiliki rumah atau menyewa. Yang lebih menentukan secara psikologis bisa jadi adalah apakah seseorang merasa aman dan stabil di tempat tinggalnya.
Kepemilikan rumah memang dapat memberikan kepuasan terhadap hunian, hubungan yang lebih kuat dengan tetangga, dan rasa kesepian yang lebih rendah. Namun manfaat tersebut tampaknya lebih terasa ketika cicilan masih dapat dikelola atau rumah sudah lunas.
Bagi penyewa, temuan ini memberikan perspektif berbeda. Sebagian manfaat psikologis yang sering dikaitkan dengan kepemilikan rumah mungkin juga dapat diperoleh dengan tinggal lebih lama di satu tempat, mengenal tetangga, dan membangun hubungan dengan komunitas sekitar.
Pada akhirnya, membeli atau menyewa rumah merupakan keputusan yang semakin kompleks, terutama bagi generasi yang menghadapi harga rumah dan biaya hidup tinggi. Penelitian dalam bahan ini menunjukkan bahwa pilihan tempat tinggal bukan satu-satunya penentu kehidupan yang baik. Pekerjaan yang bermakna, kesehatan, serta hubungan sosial dengan keluarga dan teman juga memiliki peran penting dalam kesejahteraan hidup.
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama


3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
