Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Shutterstock
Dream - Bahagia tentu menjadi tujuan setiap orang dalam hidup. Terkadang banyak orang sibuk mencari kebahagiaan dan tidak sadar bahwa kebagiaan ada di depan mata.

“Kebahagiaan yang kerap dimaknai manusia umumnya selalu bersumber dari hal-hal yang bersifat materialistik. Padahal, kebahagiaan yang sesungguhnya datang dari bagaimana manusia memaknai hidup dan nilai-nilai yang dijunjung, serta mengupayakannya dalam keseharian,” ujar Ratih Ibrahim, Psikolog Klinis & CEO Personal Growth, pada konferensi virtual Walls, Jumat 18 Maret 2022.
Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Personal Growth ditemukan bahwa, aspek-aspek yang berkontribusi terhadap kebahagiaan seseorang meliputi, 90,4% memiliki rumah bagus, 83% kekayaan finansial, dan 66,2% prestasi akademik maupun profesional.
Ratih menambahkan bahwa kebahagiaan memang bisa hadir dari prestasi akademis, kemapanan finansial, atau jabatan. Faktanya, pandangan ini hanya membuat bahagia terasa sulit dicapai atau bahkan mustahil. Padahal dengan hal-hal sederhana seperti kebersamaan saja sangat mampu membuat hati bahagia.
Jangan sampai pemaknaan mengenai kebahagiaan menjadi salah kaprah dan membuat diri sendiri atau anak-anak sulit merasa puas dan bahagia. Terutama ketika menanamkan nilai-nilai kebahagian pada anak.
Mematok kebahagiaan pada hal-hal yang bersifat materialistis justru dapat menyebabkan seseorang merasa kebahagiaan adalah sesuatu yang sulit dicapai.
Jadi, ada baiknya membangun pemaknaan dan nilai-nilai mengenai kebahagiaan sejak masa anak-anak. Bukan hanya soal materi tapi juga relasi dan kepuasan batin.

“Semakin dini usia anak, semakin baik. Orangtua dan guru memiliki peran yang begitu penting dalam proses membangun pondasi kebahagiaan ini. Dengan demikian, seluruh aspek perkembangan anak (kognitif, fisik, sosial dan emosional) akan berkembang secara optimal, anak lebih resilien, dan bahagia hingga masa dewasanya nanti," ujar Ratih.

Menyadarkan masyarakat untuk mengubah pola pikir mengenai arti kebahagiaan sejak dini. Wall’s melalui ‘The Happiness Project’ telah menyiapkan berbagai modul untuk mengajak keluarga Indonesia menerapkan 5 kunci kebahagiaan di dalam pola asuh tumbuh kembang anak. Sehingga 100.000 anak di Indonesia dapat menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Dalam The Happiness Project terdapat 5 Kunci Kebahagiaan yang menjadi acuan untuk membangun kebahagiaan yaitu Berteman, Bergerak, Bersyukur, Berbuat Baik, dan Berkreasi.
Nantinya 5 kunci kebahagiaan itu akan diimplementasikan ke dalam lima modul yaitu Menemukan Kebahagiaan, SemuaJadiHappy Challenge, Merancang Happiness Project, Duta Happiness, dan SemuaJadiHappy Festival.
Project ini juga mengajak keluarga di Indonesia untuk menerapkan 5 kunci kebahagiaan di dalam pola asuh tumbuh kembang anak.

“Melalui The Happiness Project, Wall’s ingin mendefinisikan ulang pemahaman akan arti kebahagiaan yang memiliki manfaat positif jika diterapkan dan dibangun sejak dini. Oleh karena itu, peran orang tua dan guru menjadi sangat krusial sebagai pendidik dalam proses pembelajaran dan tumbuh kembang anak,” ujar Bernardus Rendita Kusumo, Senior Brand Manager Wall’s pada kesempatan yang sama.
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

