Jumat, 9 Oktober 2026 Cari

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Reporter : Abidah
Jumat, 9 Oktober 2026 08:00
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Batas samudra yang selama ini terlihat tegas di peta ternyata sering kali tidak bisa dilihat sama sekali dari atas kapal.

DREAM.CO.ID - Jika sebuah kapal berlayar keluar dari Teluk Meksiko melewati Florida Keys menuju Atlantik, tidak ada garis yang tiba-tiba muncul di permukaan laut. Tidak ada perubahan warna air, pagar, atau tanda yang menunjukkan bahwa kapal telah meninggalkan satu perairan dan memasuki perairan lainnya. Batas samudra yang selama ini terlihat tegas di peta ternyata sering kali tidak bisa dilihat sama sekali dari atas kapal.

Ada beberapa batas yang memang dibentuk oleh kondisi geografis nyata. Selat Bering, misalnya, memisahkan Asia dan Amerika Utara. Di titik tersempitnya, selat ini hanya sekitar 53 mil atau 85 kilometer. Dua pulau Diomede yang berada di tengahnya bahkan hanya berjarak sekitar 2,4 mil. Namun, sebagian besar batas samudra justru merupakan garis yang ditetapkan melalui sistem pemetaan dan kesepakatan hidrografi.

Selat Bering menjadi salah satu contoh paling mudah dibayangkan. Selat ini merupakan satu-satunya pintu masuk antara Samudra Pasifik dan Arktik, dengan kedalaman rata-rata sekitar 98–164 kaki. Di antara Big Diomede milik Rusia dan Little Diomede milik Amerika Serikat, perbatasan kedua negara sekaligus berimpit dengan Garis Tanggal Internasional. Dari Pulau Little Diomede, seseorang dapat memandang ke barat menuju wilayah Rusia yang secara kalender berada satu hari di depan.

1 dari 2 halaman

Namun, tidak semua batas yang tampak jelas dalam foto benar-benar merupakan batas dua samudra. Foto viral dari Teluk Alaska, misalnya, pernah diklaim memperlihatkan air Samudra Atlantik dan Pasifik yang tidak bercampur. Kenyataannya berbeda. Garis warna mencolok dalam foto tersebut terbentuk ketika air limpasan dari gletser membawa sedimen halus yang disebut glacial flour ke laut. Air yang lebih terang bertemu dengan air laut yang lebih gelap.

Kedua jenis air tersebut tetap bercampur. Garis tajam yang terlihat dalam foto hanyalah kondisi sementara yang dipengaruhi oleh jumlah sedimen yang dibawa sungai. Jadi, tidak ada dinding tak kasatmata yang membuat dua samudra menolak bercampur.

Ada pula batas yang benar-benar hanya berupa garis koordinat. Di ujung selatan Afrika, batas antara Samudra Atlantik dan Samudra Hindia ditetapkan pada garis bujur 20 derajat BT yang melewati Cape Agulhas. Banyak orang mengira batas kedua samudra berada di Cape of Good Hope karena tanjung tersebut lebih terkenal, tetapi dalam sistem batas hidrografi, garisnya berada di meridian Cape Agulhas.

2 dari 2 halaman

Hal serupa terjadi di ujung Amerika Selatan. Batas antara Atlantik Selatan dan Pasifik Selatan ditetapkan pada meridian Cape Horn, sekitar 67°16' BB. Garis tersebut melintasi Drake Passage yang lebarnya sekitar 600 mil. Tidak ada sesuatu di permukaan laut yang menandai titik ketika kapal melintasi garis tersebut.

Dalam beberapa kasus, bentuk dasar laut ikut berperan. Selat Gibraltar, misalnya, menghubungkan Laut Mediterania dengan Atlantik dan memiliki beberapa ambang dangkal di dasar laut. Perbedaan kadar garam membuat air Atlantik yang lebih ringan mengalir ke timur di permukaan, sementara air Mediterania yang lebih asin dan lebih berat mengalir ke barat di bawahnya. Dua lapisan air bahkan dapat bergerak berlawanan arah secara bersamaan.

Di sekitar Antarktika, batasnya lebih dinamis. Arus Lingkar Antarktika mengelilingi benua tanpa terhalang daratan. Air kutub yang dingin bertemu dengan air yang lebih hangat di utara dalam sebuah front yang dapat bergeser mengikuti musim dan tahun.

Yang menarik, sistem pembagian samudra itu sendiri bukan sesuatu yang sepenuhnya berasal dari alam. Selama puluhan tahun, acuan utama batas laut dunia adalah Limits of Oceans and Seas, dokumen yang disusun untuk membantu kantor hidrografi menyamakan penggunaan nama wilayah laut dalam peta dan petunjuk pelayaran. Dokumen tersebut menggunakan garis bujur, garis lintang, dan garis arah tertentu untuk menetapkan batas.

Pada 2026, International Hydrographic Organization (IHO) mengadopsi standar pengganti bernama S-130 yang mengidentifikasi samudra dan laut menggunakan kode numerik. Negara-negara tetap dapat menggunakan nama mereka sendiri untuk wilayah perairan yang sama.

Pada akhirnya, samudra dunia merupakan satu sistem air yang saling terhubung. Ada batas yang dibentuk daratan, selat, dan kondisi dasar laut, tetapi banyak pula yang hanya berupa garis pada peta. Dengan kata lain, ketika sebuah kapal berpindah dari satu samudra ke samudra lain, yang berubah tidak selalu kondisi air di sekelilingnya, melainkan cara manusia memberi nama dan mengelompokkan wilayah laut tersebut.

Beri Komentar