Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Penyaluran Program Pembiayaan Mandiri Terdepan Laznas BMH Dan Lazis Babussalam (Humas BMH)
Dream - Masyarakat Muslim sebenarnya telah mendapat banyak 'warisan' dari Rasulullah Muhammad SAW. Salah satunya adalah trustworty, etos kerja yang cakupan geraknya tidak hanya memburu materi melainkan juga berdimensi ukhrawi.
Sayangnya, seiring berjalannya waktu etos kerja ini semakin ditinggalkan. Kebanyakan pengusaha kini terlalu disibukkan dengan hasrat memburu keuntungan materi.
" Kita memiliki figur teladan wirausahawan luar biasa, Rasululullah Muhammad, yang diakui etos kerja dan kepribadiannya yang teguh berpengaruh. Tapi sayangnya kita melupakan nilai trustworthy yang telah beliau contohkan," ujar Direktur Lazis Babussalam Tubagus Mualif, melalui keterangan tertulis diterima Dream, Selasa, 26 April 2016.
Dia menjelaskan trustworthy yang bermakna 'dapat dipercaya' sejatinya merupakan kekayaan mahal yang mesti dimiliki oleh setiap muslim. Apalagi hal ini telah terbukti membuahkan karya monumental yang diperagakan oleh Nabi Muhammad bergelar Al Amin.
Karena kian sangat pentingnya aspek ini, trustworthy kini telah menjadi salah satu bidang kajian yang banyak dibahas dalam dunia manajemen sebagai perilaku melibatkan penerimaan terhadap kepercayaan orang lain.
" Dapat dipercaya, itu intinya. Seorang muslimpreneur harus mampu menjaga nilai-nilai ini seperti telah dicontohkan Nabi kita,” kata Maulif yang juga pengusaha sukses di bidang alat kesehatan ini.
Mualif mendorong para calon pengusaha untuk tidak semata sibuk banting tulang mengais rezeki, melainkan juga tak alpa melakukan amal usaha kebaikan untuk keberkahan bagi diri, keluarga, masyarakat, serta negara, di antaranya dengan menjadi muzakki (pembayar zakat).
Lembaga Amil Zakat Infak dan Shadaqah (LAZIS) Masjid Babussalam, Rawamangun, Jakarta Timur, yang bermitra dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAZNAS BMH) menggelar acara Seminar & Pelatihan Wirausaha “ Hijrah Menjadi Muslimpreneur Sejati ke-2” yang berlangsung intensif di Aula Serba Guna Masjid Babussalam, akhir pekan lalu.
Seminar ini menghadirkan pembicara Ketua Lazis Babussalam Tubagus Mualif, praktisi pemasaran digital Rawi Wahyudiono, praktisi bisnis UKM Ato Sunarto, dan pengusaha kuliner Iwin Winarti yang memandu acara praktik masak kue olaharan rumahan yang halal dan higienis.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya