Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Minimnya sentimen positif yang diterima pelaku pasar menjatuhkan laju bursa syariah longsor dari zona hijau. Pemodal tampaknya memilih aksi wait and see terhadap laporan kinerja kuartal I-emiten.
Sentimen regional yang bergerak turun menambah tekanan pada laju bursa saham Indonesia.
Pada penutupan perdagangan harian Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 25 April 2016, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) melemah 0,918 poin (0,57%) ke level 160,736.
Indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII) juga tak sanggup melawan tekanan jual. Indeks JII ditutup melemah 4,308 poin (0,63%) ke level 678,811.
Kedua indeks syariah ini mengawali perdagangan awal pekan dari zona hijau. Ini terjadi setelah muncul sentimen dari bursa Wall Street.
Namun kondisi regional yang cenderung flat turun dan aksi tunggu investor terhadap kinerja keuangan emiten, akhirnya memaksa indeks syariah turun ke zona negatif.
ISSI tercatat mampu menembus level tertingginya di 162,159. Namun indeks berisi lebih dari 300 emiten ini sempat jatuh ke level terendah di 160,257.
Transaksi perdagangan saham syariah awal pekan ini mencapai Rp 3,48 triliun dengan 33,34 miliar saham berpindahtangan. Masih adanya aksi beli mendorong 74 emiten syariah ditutup menguat.
Namun ISSI tak kuasa menahan 122 penghuninya yang jatuh ke zona merah.
Kenaikan emiten sektor infrastruktur sebesar 1,27 persen, tak sanggup menahan indeks sektoral yang didominasi koreksi. Penurunan tajam dialami indeks sektor keuangan yang turun 1,74 persen, disusul perkebunan 1,51 persen dan barang konsumsi 1,15 persen.
Sementara indeks sektor pertambangan dan industri aneka menemani emiten infrastruktur di teritori positif.
Koreksi dalam dialami saham UNVR yang jatuh Rp 2.225 per saham. Top losser indeks saham bluechips syariah lainnya dihuni UNTR yang turun Rp 725, AALI Rp 225, INDF Rp 50, dan LPPR Rp 50 per saham.
Tingginya penurunan harga saham top losser tersebut tak sanggup ditahan emiten keping biru syariah yang menghuni daftar top gainer. Di pemuncak top gainer, ITMG hanya mampu menguat Rp 175 per saham. Diikuti TLKM Rp 95, ICBP Rp 75, AKRA Rp 25, dan JSMR Rp 25 per saham.
Dari pasar keuangan, kurs rupiah sore ini bergerak menguat setelah pagi tadi dilanda tekanan. Rupiah beranjak naik 22 poin (0,17%) menjadi 13.172 per dolar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya