Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Merebaknya implementasi ekonomi Islam di sektor lifestyle dan pariwisata dunia menuntut Indonesia untuk segera membuat percepatan inovasi bisnis. Sebagai negara dengan populasi penduduk muslim terbesar di dunia, Menteri Pariwisata RI Arief Yahya mengakui pengembangan bisnis lifestyle dan pariwisata Islam di Indonesia masih tertinggal dari negara lain.
Arief mengungkapkan Thailand, yang hanya memiliki populasi penduduk muslim sebesar lima persen dari total penduduknya mampu mengekspor produk syariah hingga 25 persen. Sedangkan Korea, negara yang penduduk muslimnya sangat minim, kini dapat mengekspor produk syariah mencapai 10 persen dari total ekspor negara.
Melihat kondisi tersebut, Arief, dalam pembukaan FGD Halal Tourism and Lifestyle 2015 yang diselenggarakan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), menekankan perencanaan bisnis di sektor syariah ini perlu dilaksanakan dengan kerangka berpikir yang sistematis.
" Pertama dengan pembacaan konsep. Kedua, menentukan target dan ketiga, menetapkan strategi implementasi," ujar Arief Yahya di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2015.
Arief menambahkan bisnis gaya hidup syariah sedang populer dan sangat menjanjikan. Apalagi, Indonesia memiliki pasar yang besar untuk mengembangkan bisnis di sektor syariah.
Untuk itu, Arief menargetkan pertumbuhan market share di sektor ini bisa mencapai 2,5 persen pada 2020 atau senilai US$ 5 miliar. Sebelumnya, pada 2012 market share pariwisata masih sekitar 1,2% atau senilai US$ 1,7 miliar.
Terakhir, dari sisi strategi implementasi. Arief mengakui pada titik ini Indonesia menemui sedikit hambatan, sebab sektor pariwisata masih merupakan kebutuhan tersier. Namun, hal ini bisa diatasi jika semua pihak cermat membaca kebutuhan dasar masyarakat.
" Kita dapat memulai bisnis lifestyle dari fesyen dan makanan. Karena keduanya merupakan basic needs yang sesuai dengan keinginan masyarakat," tutupnya.
(Laporan Kurnia Yunita Rahayu)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya