Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia (RI) Bambang Brodjonegoro menegaskan, hingga saat ini Indonesia sudah menuntaskan tiga ukuran keberhasilan kebijakan perubahan iklim untuk tujuan pembangunan berkelanjutan.
Yaitu penggeseran paradigma manajemen sumber daya alam dalam mempromosikan pertumbuhan karbon rendah dan ketahanan iklim. Kemudian memastikan efektivitas pendanaan iklim baik dari sumber dana domestik maupun internasional. Serta memobilisasi sumber daya untuk program perubahan iklim melalui katalis anggaran dan instrumen fiskal.
“ Saat ini, Indonesia telah mencapai kesuksesan yang cukup baik di antara negara-negara di kawasan Asia Pasifik dan jaringan Selatan-Selatan dalam hal bentuk anggaran domestik yang serupa dengan mekanisme pendanaan internasional di bawah Green Climate Funds UNFCCC,” ucap Bambang Brodjonegoro dalam Asian Pasific Regional Forum on Climate Finance for Sustainable Development di Jakarta, Selasa 1 September 2015.
Perwujudan dari tiga ukuran keberhasilan tersebut salah satunya adalah dengan menerbitkan Green Fiscal Paper pada 2009 yang memicu pengarusutamaan perubahan iklim dalam perencanaan anggaran dan pembangunan. Selain itu, efektivitas anggaran untuk pendanaan iklim telah didukung oleh implementasi Kerangka Mitigasi Fiskal serta Sistem Penilaian dan Penandaan Anggaran Emisi Rendah.
“ Sistem ini memungkinkan kita untuk melacak seluruh alokasi anggaran dan pengeluaran dalam mitigasi iklim dan yang lebih jauh, mengombinasikan indikator kinerja anggaran untuk menilai usaha mencapai target pengurangan emisi,” tutur Bambang.
Meski demikian, Bambang mengingatkan, keberhasilan agenda pembangunan berkelanjutan dalam kondisi perubahan iklim ditentukan oleh komitmen kuat masyarakat untuk mengurangi emisi bahan bakar minyak pada 2020 atau mengamankan pembiayaan negara hingga USD 100 miliar. Selain itu, model pembiayaan ini juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan serta mobilisasi sumber daya oleh pemerintah.
“ Terdapat tantangan yang multidimensi untuk dapat melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Terutama perencanaan nasional dan proses penganggaran belanja perlu menjadi instrumen kunci untuk memastikan pendekatan yang menyeluruh untuk mencapai tujuan ekonomi, sosial dan lingkungan,” ujarnya.
Bambang berharap, forum tersebut mampu memberi kontribusi untuk meningkatkan efektivitas anggaran yang terkait dengan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Sebab, capaian dari Sustainable Development Goals (SDGs) dan penyebaran tujuan COP 2020 mampu memberikan keuntungan dari segi ekonomi dan lingkungan secara bersamaan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya