Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream -Kepopuleran sistem aplikasi transportasi digital di Jakarta nampak makin luas. Buktinya, setelah merebak aplikasi ojek online Go-Jek dan GrabBike di kalangan masyarakat, kini kembali hadir satu sistem aplikasi yang menawarkan layanan yang sama bernama Blu-Jek.
Start-up bisnis ini didirikan oleh dua pengusaha muda Indonesia Garett Kartono dan Michael R. Manuhutu. Kedua orang lulusan manajemen bisnis di salah satu universitas ternama di Amerika Serikat ini pun sepakat untuk mengembangkan bisnis tersebut karena melihat peluang yang amat besar, baik dalam hal finansial maupun dalam ranah sosial.
“ Peluang selalu terbuka selama ada permintaan pasar yang tinggi dengan ekspektasi yang semakin detil dan personal. Blu-Jek hadir untuk menjawab permintaan itu melalui smart application-nya,” kata Michael R. Manuhutu di Jakarta, Kamis 17 September 2015.
Tingginya minat masyarakat terhadap model transportasi baru ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah calon pengemudi di tiap perekrutan yang dibuka oleh Go-Jek ataupun GrabBike beberapa waktu sebelumnya. Oleh karena itu, Michael dan Garett tidak ragu-ragu untuk menginvestasikan miliaran rupiah untuk mengembangkan bisnis ini.
“ Pangsa pasar masih sangat besar, di Jakarta saja siang hari ada 20 juta orang,” ujar Garett.
Michael R. Manuhutu menambahkan, meski Blu-Jek bukanlah aplikasi ojek digital pertama di Indonesia, dia tak risau apabila banyak pihak akan menilainya sebagai peniru. Bagi lelaki yang akrab disapa Mike ini, bisnis transportasi berbasis aplikasi digital di Indonesia baru dilakukan oleh sedikit orang, jadi peluang tersebut mesti dimanfaatkan untuk menambah pilihan bagi masyarakat.
Terlebih, sistem aplikasi ini memiliki terobosan baru yang berbeda dengan para pendahulunya. Mike mengatakan, segmentasi peserta Blu-Jek diutamakan bagi para pengemudi ojek pangkalan. Alasannya, kemunculan aplikasi ojek digital kerap kali menimbulkan permasalahan bagi mereka yang tidak tergabung di dalamnya.
“ Untuk tetap memberikan kontribusi bagi perputaran perekonomian masyarakat khususnya kelas menengah bawah, Blu-Jek melakukan pendekatan personal bagi tukang ojek pangkalan supaya bisa bergabung menjadi pengemudinya,” tambah Mike.
Dengan demikian, ia pun berharap keberadaan Blu-Jek mampu memicu perkembangan usaha-usaha lain yang ada di sekitarnya. “ Kami juga mengharapkan dengan hadirnya Blu-Jek dapat memberikan stimulan ke arah perkembangan di semua bidang kehidupan, baik sektor perdagangan maupun sektor industri lainnya,” pungkas Mike.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya