Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatatkan dana kelelolaan hingga Oktober 2015 telah Rp 198,67 triliun atau tumbuh 11,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari dana itu, BPJS memetik hasil investasi hingga Rp 14,71 triliun atau memberikan imbal hasil (yield on investment annualized) sebesar 9,14 persen.
" BPJS Ketenagakerjaan hanya menginvestasikan dana yang dikelola sesuai dengan ketentuan pemerintah sehingga memenuhi standard kehati-hatian," kata Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Elvyn G. Masassya di Jakarta.
Seperti dikutip dari situs BPJS Ketenagakerjaan, Kamis, 3 Desember 2015, dana tersebut disimpan dalam bentuk deposito sekitar 22 persen, surat utang 48 persen, saham 21 persen, reksadana 8 persen, penyertaan langsung dan properti sekitar 1 persen.
Dalam 10 bulan di tahun 2015, perusahaan pelat merah ini berhasil mengumpulkan iuran sebesar Rp 27,8 triliun atau naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 22,7 triliun.
Dengan potensi dana kelolaan yang besar ini, lanjutnya, dipastikan dana tersebut juga dikelola sesuai dengan kebutuhan programnya agar memberikan hasil yang optimal bagi peserta.
Dia mencontohkan, iuran dari program Jaminan Hari Tua (JHT) sebagian besar dikembangkan untuk portofolio jangka panjang seperti surat utang sementara untuk Jaminan Kematian (JKM) dan Jaminan Keselamatan Kerja (JKK) dikembangkan di instrumen deposito.
Dari sisi pengajuan klaim peserta hingga Oktober 2015, Elvyn menyebutkan total klaim JHT yang telah dibayarkan mencapai Rp 11,86 triliun atau meningkat 31,95 persen, untuk JKM sebesar Rp 317,39 miliar atau meningkat 12,96 persen, JKK Rp 574,96 miliar atau meningkat 1,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Elvyn menambahkan, BPJS Ketenagakerjaan merupakan lembaga yang pengelolaannya sangat transparan karena diawasi oleh banyak instansi seperti OJK, BPK, Kantor Akuntan Publik (KAP) serta auditor internal sehingga setiap transaksi keuangan termasuk pengalihan program jaminan pemeliharaan kesehatan telah melalui proses audit yang ketat.
Sampai Oktober kemarin BPJS Ketenagakerjaan memiliki peserta aktif sebanyak 19,1 juta tenaga kerja. Sementara pada periode yang sama di 2014, jumlah peserta aktif mereka baru sebesar 16,34 juta.
Peningkatan kepesertaan ini juga terjadi di kategori kepesertaan dari perusahaan aktif yang juga melonjak 133,29 persen atau sebanyak 275.888 dibanding pada Oktober 2014 sebanyak 206.988 atau 109,65 persen dari target 2015.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya