Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bahkan, Produk-produk Perancis Ditarik Dari Supermarket Di Arab. (Foto: Ilustrasi/Shutterstock)
Dream – Beberapa asosuasi dagang Arab memboikot produk-produk Perancis sebagai bentuk protes terhadap pernyataan Presiden Perancis, Emmanuel Macron. Diketahui pemimpin Perancis itu bereaksi keras usai seorang guru yang memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad jadi sasaran pembunuhan pemuda muslim.
Dikutip dari Al Jazeera, Senin 26 Oktober 2020, awal bulan ini, Macron berjanji akan melawan separatis Islam serta cara mengendalikan komunitas Muslim di sekitar Perancis. Pria ini juga mendeskripsikan Islam sebagai krisis dunia.
Macron juga akan mengajukan Undang-Undang pada Desember ini untuk memperkuat regulasi tahun 1905 yang resmi memisahkan gereja dan negara di Perancis.
Pernyataan Macron tersebut berujung pada munculnya kampanye di media sosial yang menyerukan boikot produk Perancis dari supermarket di negara-negara Arab dan Turki. Tagar seperti #BoycottFrenchProducts dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab #ExceptGodsMessenger menjadi tren di berbagai negara termasuk Kuwait, Qatar, Palestina, Mesir, Aljazair, Yordania, Arab Saudi, dan Turki.
Di Kuwait, ketua dan anggota dewan direksi Perkumpulan Koperasi Al-Naeem memutuskan untuk memboikot semua produk Prancis dan mengeluarkannya dari rak supermarket. Asoasi Dahiyat al-Thuhr mengambil langkah yang sama.
“ Berdasarkan pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron dan dukungan terhadap kartun ofensif terhadap nabi tercinta, kami memutuskan untuk menghapus semua produk Perancis dan pasar dan cabang sampai pemberitahuan lebih lanjut,” tulis Dahiyat al-Thuhr.
Di Qatar, Wajbah Dairy mengumumkan akan memboikot produk Perancis dan berjanji akan memberikan alternatif produk pengganti. Ini dikatakan di akun resmi Twitter mereka. Al-Meera Consumer Good Company juga menarik produk Perancis dari rak toko hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Kampanye ini juga ikut bergabung dalam kampanye tersebut. Pihaknya menunda acara Pekan Budaya Perancis dengan alasan ada penyalahgunaan dengan sengaja terhadap Islam dan simbol-simbolnya.
Gulf Cooperation Council (GCC) menggambarkan Macron sebagai perbuatan yang tidak bertanggung jawab dan bisa menyebarkan kebencian di antara masyarakat. Sekretaris GCC, Nayef al-Hajraf, meminta para pemimpin dunia hingga pakar untuk menolak pidato kebencian dan penghoinaan terhadap dan simbol Islam untuk menghormati perasaan Muslim.
Kuwait juga bereaksi terhadap kampanye ini. Negara itu menyebut Macron membuat pelanggaran dan kebijakan diskriminatif yang menghubungkan Islam dengan terorisme. Organisasi Kerja Sama Islam juga mengutuk sebagai serangan lanjutan Perancis terhadap Muslim dengan menghina simbol-simbol agama.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya