Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Penurunan tajam kurs rupiah terhadap dolar AS ke era krisis keuangan Asia sedikit berkurang setelah Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi pasar.
Data Bloomberg, Selasa, 16 Desember 2014 mencatat nilai tukar rupiah siang ini bertengger di level 12.721 per dolar AS atau turun 0,2 persen.
Sebelumnya rupiah sempat terjun bebas 1,9 persen, atau mencetak rekor terendah sepanjang 16 tahun terakhir. Rupiah kembali ke era Krisis Moneter 1998.
Di pasar luar negeri, nilai kontrak rupiah untuk jangka waktu sebulan tercatat menguat 0,6 persen ke level 12.999 per dolar AS. Dalam dua hari perdagangan, rupiah tercatat sudah jatuh 5 persen.
Kurs rupiah selama beberapa hari terakhir memang terseret pelemahan mata uang Rusia, Ruble, yang telah turun 9,7 persen. Alhasil, bekas pecahan negara Uni Soviet ini menaikan suku bunga acuan sebesar 6,5 persen menjadi 17 persen.
Wiling Bolung, Head of Balance-sheet Trading dari PT Bank ANZ Indonesia seperti dikutip Bloomberg, Selasa, 16 Desember 2014 mengatakan minimnya pasokan dolar memicu pelemahan rupiah. Di sisi lain, BI kini mulai masuk ke pasar.
" Ini hal biasa yang mereka lakukan," katanya.
Wiling menambahkan, Ruble Rusia merupakan pemicu utama pelemahan rupiah. Namun reaksi berlebihan dari publik juga membuat rupiah makin tertekan.
Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam keterangan pers mengatakan bank sentral tengah mengintervensi pasar untuk menstabilkan kurs rupiah.
Bank sentral juga melakukan aksi beli surat utang negara di pasar sekunder.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro memastikan pelemahan rupiah saat ini hanya bersifat sementara. Pemerintah kini tengah bersiap melakukan aksi buy back surat utang jika memang diperlukan. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya