6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Menteri BUMN, Rini Soemarno Dan Menkeu Sri Mulyani (Foto: Setkab)
Dream – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyurati Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno. Sri Mulyani khawatir PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)/PLN terancam gagal bayar akibat membiayai proyek 35 ribu MW.
Rini pun angkat bicara tentang surat yang dilayangkan oleh Sri Mulyani. Dia mengatakan pengiriman surat itu dinilai sebagai hal lumrah dan bentuk pengawasan terhadap kinerja BUMN.
“ Jadi, normal dong, sebagai menkeu mengingatkan kita. (Misal), ‘Hei, ini kamu (PLN), proyeknya banyak. Tolong jagain rasionya debt equity ratio,” kata dia di Jakarta, dilansir dari Merdeka.com, Kamis 28 September 2017.
Dia mengatakan pengawasan juga dilakukan oleh Kementerian BUMN agar kondisi keuangan perusahaan-perusahaan pelat merah berada dalam kondisi yang sehat.
" Ini yang memang selama tiga tahun kita di BUMN tekankan terus kepada direksi ini harus dijaga. Harus selalu ada worst position. Kalau nggak begini, harus begitu, dan lain-lain. Jadi, normal saja," jelas Rini.
Sebelumnya, Sri Mulyani berkata kinerja keuangan PLN turun karena harus membayar pokok pembayaran dan bunga pinjaman yang tak didukung oleh pertumbuhan kas perusahaan. “ Kemenkeu harus mengajukan waiver kepada lender PT PLN sebagai dampak terlanggarnya kewajiban pemenuhan covenant PLN dalam perjanjian pinjaman untuk menghindari cross default atas pinjaman PLN yang mendapatkan pinjaman pemerintah,” kata dia.
Sri Mulyani juga mengatakan dana internal perusahaan terbatas dan berpengaruh terhadap kemampuan BUMN setrum ini untuk melakukan investasi. Lalu, dia menggarisbawahi kewajiban pembayaran pokok dan bunga pinjaman PLN diprediksi akan meningkat beberapa tahun mendatang, namun pertumbuhan penjualan listrik tidak sesuai dengan perkiraan. Mantan petinggi Bank Dunia ini memperkirakan tidak ada kenaikan tarif listrik akan membuat PLN gagal bayar utang.
“ Adanya kebijakan pemerintah untuk meniadakan kenaikan tarif listrik dapat berpotensi meningkatkan risiko gagal bayar PLN,” kata dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
