Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Lantai Perdagangan BEI, Jakarta
Dream - Bursa saham syariah Indonesia berhasil menutup perdagangan akhir Januari di zona positif. Meski penguatan itu harus dilalui dengan susah payah.
Sentimen global membawa pengaruh besar pada pergerakan bursa saham jelang libur akhir pekan ini. Terbukti indeks saham langsung menembus zona hijau usai indeks utama Asia ditutup menguat.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat, 29 Januari 2016, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) menguat 0,875 poin (0,61%) ke level 144,883.
Indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII) juga ditutup menguat 4,999 poin (0,82%) ke level 612,750.
Aksi beli jelang sesi penutupan menjadi motor penggerak ISSI. Sebelum ISSI sempat bergera flat di zona merah dengan level terendah 143,251.
Transaksi perdagangan saham syariah juga meningkat signifikan. Tercatat sekitar 37 miliar saham syariah jadi objek transaksi investor dengan dana bergulir hingga Rp 4,52 triliun.
Sebanyak 86 emiten syariah menyambut libur akhir pekan di zona hijau. Sementara 75 lainnya tertekan aksi jual dan 48 emiten ISSI bertahan stagnan.
Lebih dari separuh penghuni indeks JII juga bergerak naik. Tercatat 1 emiten bluechips syariah dilanda aksi beli sementara 11 lainnya harus turun ke zona merah.
Emiten di sektor industri aneka memimpin penguatan dengan kenaikan 2,86 persen. Diikuti sektor infrastruktur 2,09 persen dan perkebunan 0,75 persen.
Sebaliknya, emiten sektor barang konsumsi justru tertekan melemah hingga 1,77 persen. Begitu pula emiten manufaktur yang turun 0,65 persen.
Daftar emiten pencetak kenaikan harga saham tertinggi (top gainer) dihuni oleh UNTR yang naik Rp 625. Diikuti SMGR Rp 350, INDF Rp 225, ASII Rp 200, dan ITMG Rp 80 per saham.
Sementara raksasa produk barang konsumsi di Indonesia, UNVR, terserang aksi jual dan melemah Rp 550 per saham. Top losser lainnya adalah LPPF yang turun Rp 425, ICBP Rp 400, INTP Rp 300, dan SILO Rp 225 per saham.
Aksi beli investor juga sesi penutupan juga mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona hijau. IHSG naik 12,334 poin (0,27%) ke level 4.615,163.
Investor asing menjadi motor penggerak utama ketika membanjiri lantai bursa dengan aksi beli bersih (nett buy) hingga Rp 1,41 triliun. Posisi beli asing ini merupakan yang tertinggi sepanjang bulan pertama 2016.
Kabar baik juga berhembus dari pasar keuangan. Rupiah menguat 105 poin (0,76%) menjadi 13.768 per dolar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya