Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Bank Dunia memperingatkan masyarakat dunia mengenai krisis lapangan pekerjaan yang kini tengah terjadi. Masalah ini akan menganggu pertumbuhan ekonomi dunia dan tidak ada langkah cepat yang mampu menyelesaikan masalah tersebut.
Dalam sebuah studi yang dirilis Bank Dunia terkait buruh dalam Pertemuan Tingkat Menteri Ketenagakerjaan di Australia, diperlukan setidaknya tambahan 600 juta lapangan pekerjaan baru pada tahun 2030 sebagai langkah antisipasi pertumbuhan populasi.
" Ada sedikit keraguan mengenai krisis lapangan pekerjaan global ini. Laporan ini menjelaskan adanya kekurangan pekerjaan dan kualitasnya," ujar Direktur Senior Bank Dunia Nigel Twose, seperti dikutip dari Gulf News, Rabu, 10 September 2014.
" Dan hal yang menganggu lainnya adalah kami melihat terjadinya ketimpangan pendapatan di negara anggota G20, meskipun beberapa kemajuan telah diperlihat beberapa negara berkembang seperti Brazil dan Afrika Selatan," tambahnya.
Twose mengetakan negara berkembang secara keseluruhan telah mengatasi masalah ini lebih baik dibandingkan negara maju. Negara berkembang mampu menciptakan lapangan kerja, terutama didorong negara seperti China dan Brazil, meski prospeknya masih suram.
Laporan yang disusun oleh OECD dan International Labour Organisation mengatakan lebih dari 100 juta orang kini menjadi pengangguran di negara G20 dan ada 447 juta orang yang masuk dalam kategori pekerja miskin dengan biaya hidup kurang dari US$ 2 per hari.
Meskipun dikatakan terjadi pemulihan ekonomi pada tahun 2013-2014, tetapi pertumbuhan ini masih berada di bawah tren dan masih berisiko menurun. Hal ini karena melemahnya pasar tenaga kerja yang menghambat konsumsi dan investasi.
Pertumbuhan ekonomi yang melambat terus-menerus akan meredam prospek pertumbuhan lapangan pekerjaan. Selain itu, upah riil yang stagnan di banyak negara juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi ini.
" Tidak ada langkah cepat untuk menyelesaikan krisis lapangan pekerjaan ini. Namun, memang perlu dilakukan langkah antisipasi untuk menanggapi pertumbuhan populasi ini dengan menciptakan 600 juta lapangan pekerjaan baru," jelasnya.
" Untuk itu dibutuhkan kerja sama semua departemen dan sektor swasta," tambahnya.
Dalam menghadapi pelambatan pertumbuhan ekonomi ini, Forum G20 akan bertemu kembali pada November mendatang dengan pembahasan mengenai pengembangan strategi pertumbuhan dan rencana aksi.
Forum ini menekankan perlunya kebijakan publik yang terkoordinasi dan terintegrasi dengan sistem perlindungan sosial dan keuangan negara.
" Kebijakan yang terkoordinasi ini sangat diperlukan guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan menciptakan lapangan kerja," tandas Twose.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya