Unggahan Soal Anak yang 'Haram' Disebar di Sosmed

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 6 Desember 2016 15:43
Unggahan Soal Anak yang 'Haram' Disebar di Sosmed
Jangan biarkan Anda meninggalkan jejak digital yang bisa mempermalukan si kecil.

Dream - Mengunggah foto anak-anak di media sosial pasti pernah dilakukan orang tua. Kebiasaan ini biasanya dilakukan sebagai salah satu cara untuk menunjukkan kelucuan dan kepintaran si kecil kepada khalayak ramai.

Namun tahukah Sahabat Dream bahwa mengunggah foto atau membagikan masalah di media sosial sangat berisiko.

Seperti apa risikonya? Berikut ini adalah beberapa hal tentang anak yang tidak boleh dibagikan di media sosial.

1. Lokasi tempat tinggal
Mungkin foto yang baru Anda unggah hanyalah foto anak-anak sedang berpose di depan rumah sambil mengangkat dua jarinya. Padahal, mengunggah foto dengan latar belakang rumah atau properti Anda akan mengungkap informasi lokasi atau situasi tempat tinggal yang seharusnya bukan menjadi konsumsi publik.

Tanda penunjuk jalan, nomor rumah, atau alamat lengkap mungkin terlihat tidak berbahaya ketika menjadi latar belakang. Tapi informasi tersebut bisa menjadi jalan bagi penjahat untuk menjalankan aksinya.

Anak-anak akan rentan terhadap penculikan dan pencurian identitas digital di mana orang lain akan menggunakan foto-foto anak Anda sebagai alat untuk menipu dengan mengaku yang ada dalam foto adalah anak mereka.

2. Identitas anak
Anak Anda memegang tanda bertuliskan 'Aku berusia 6 tahun hari ini' dalam huruf yang lucu saat ulang tahunnya. Memberikan informasi seperti tanggal dan tempat lahir, serta nama lengkap bukan ide yang bagus.

Sebab, informasi tersebut bisa digunakan untuk memalsukan identitas pelaku kejahatan. Mereka bisa memalsukan identitas dengan menggunakan nama lengkap anak Anda dan tanggal lahirnya. Atau memalsukan tempat lahirnya dengan menggunakan identitas dari anak Anda.

3. Foto saat mandi
Anda tentu tak sabar mengunggah foto bayi atau anak yang lucu dan imut mandi sambil bermain air. Tentu saja ketika mandi atau bermain air, anak-anak akan telanjang atau 
setidaknya memakai baju renang. Tapi ketahuilah, di dunia maya banyak berkeliaran pedofil yang siap menerkam anak-anak tak berdosa untuk dijadikan pemuas nafsu mereka.

4. Kelemahan anak dan momen memalukan
Anda mungkin berpikir mengunggah foto anak yang sedang sakit akan mendapat perhatian atau menimbulkan simpati dari rekan-rekan di media sosial. Entah itu berguna atau tidak, 
tapi pertimbangkan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi anak Anda. Apa yang Anda anggap momen untuk mendapatkan simpati dan perhatian malah menjadi kenangan yang memalukan bagi mereka.

" Apakah anak-anak ingin melihat foto diri mereka sendiri dalam kondisi memalukan secara online di masa depan? Tentu tidak," kata Stacey Steinberg, direktur Center on Children and Families dan dosen University of Florida Levin College of Law di Gainesville, Florida.

Steinberg mengatakan momen-momen itu sama saja ketika mereka mendapat menstruasi atau menggunakan toilet untuk pertama kalinya. Ada rasa malu dan tidak percaya diri di dalamnya sehingga tidak pantas dibagikan kepada publik.(Sah)

 

1 dari 1 halaman

Jangan permalukan anak

5. Perilaku berlebihan
Mungkin Anda merasa lucu ketika melihat anak mengamuk atau rewel sehingga mengabadikannya dalam foto dan mengunggahnya di media sosial. Namun mendokumentasikan perilaku mereka yang buruk bisa membuat trauma mereka nantinya.

6. Kekurangan anak
Media sosial bukan untuk mempermalukan anak. Apakah itu mereka mengompol atau kesulitan belajar membaca, mengabadikan dalam foto dan menulis kata-kata lucu tentang kekurangan mereka itu akan menjadi masalah bagi mereka.

Mengekspos kelemahan mereka bisa mengundang ejekan dan bullying terhadap mereka. Sehingga memicu julukan-julukan buruk yang akan melekat pada mereka selamanya.

" Maka dari itu penting mengajak mereka berbicara tentang apa yang boleh dibagikan atau tidak di media sosial," kata Steinberg.

7. Nilai jelek
Mengunggah foto nilai rapor jelek bukan satu langkah yang cerdas untuk mempermalukan atau meminta bantuan. Ada dua kemungkinan, mengunggah nilai rapor yang jelek. Anda 
memang ingin mempermalukan anak sehingga mereka kapok atau bermaksud meminta saran.

Tapi cara tersebut justru akan melukai hati dan perasaan anak sehingga mereka malu. Apalagi menurut survei Career Builder, sebanyak 59 persen perusahaan mengandalkan media sosial untuk menjaring karyawan. Tentu Anda tidak mau jejak digital anak Anda terekam oleh perusahaan, bukan?

Sumber: RD.com

Beri Komentar
Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya