Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Ilustrasi Ibu Dan Anak
Dream - Pribadi yang tidak egois, mau mendengarkan orang lain, memikirkan kondisi sekitar jadi hal penting yang harus dimiliki seorang anak. Hal ini tak lepas dari pengajaran empati yang menjadi perkerjaan rumah setiap orangtua.
Sejak anak balita pembelajar soal empati memang sudah harus bisa diajarkan. Meskipun sikap mereka masih semaunya, sebenarnya balita perlahan-lahan mengerti apa yang dirasakan orang-orang di sekitarnya.
Mengajarkan empati sebenarnya akan lebih mudah dicerna dengan cara mencontohkan. Jangan segan menunjukan saat Anda sedih, marah atau gembira pada buah hati.
1. Ajarkan beragam emosi
Anak tidak bisa berempati atau merasakan yang orang lain rasakan jika mereka tidak tahu bagaimana untuk menggambarkan emosi mereka sendiri. Saat Anda sedih, katakan saja Anda sedih, atau ketika anak menangis ungkapkan jenis emosi yang dirasakannya. Seperti, " Adek sekarang sedang marah, jadi lempar-lempar barang, kita duduk dulu, yuk" . Anak usia 1,5 hingga 2 tahun sudah bisa diperkenalkan jenis emosi ini.
2. Baca buku dan menonton televisi bersama
Dalam buku cerita banyak sekali karakter yang bisa diperkenalkan. Jangan hanya membaca atau menonton, tapi gambarkan juga emosi yang dialami karakter dalam cerita, apakah sedih, gembira, senang, kecewa. Misalnya: " Elmo terlihat sedih karena tidak bisa menemukan mainannya yah" .
3. Diskusi
Jika anak memukul orang lainatau melempar barang, saatnya untuk berdiskusi. Tempatkan di ruangannya yang tenang dan tanya apa yang ia rasakan. Mungkin anak hanya akan menangis, dan Anda bisa membantu mengekspresikan emosinya, seperti " Adek kesal ya mainannya diambil kakak, adek sedang marah, tapi tidak boleh memukul, nanti biar mama yang bilang ke kakak" .
Empati tidak muncul begitu saja dan harus diasah. Sebagai orangtua, Anda tentu ingin buah hati berkembang menjadi pribadi yang peduli dengan keadaan sekitar. Hal ini tentunya akan membuat ia jadi sosok yang kuat dan tahu bagaimana bersikap dalam berbagai kondisi.(Sah)
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari