7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Batuk Berkepanjangan, Gejala Kanker Paru-paru/ Foto: Shutterstock
Dream - Data Globocan 2020 menunjukkan, kanker paru menjadi salah satu kanker dengan angka kejadian tertinggi di Indonesia. Perkiraannya, ada sekitar 34.783 kasus baru kanker paru di Indonesia.
Tantangan utama di Indonesia dalam penanganan kanker paru sangat berlapis, mulai dari skrining, diagnosis hingga terapi pengobatan. Tidak hanya itu, kanker paru-paru, yang umumnya dikaitkan dengan perokok, juga dapat menyerang non-perokok. Belum lagi berbagai jenis mutasi kanker paru-paru yang memerlukan diagnosis dan manajemen yang cermat.
“ Kalau dari statistik angka memang cukup menyedihkan tetapi tidak heran karena angka merokok di Indonesia cukup tinggi sebagai faktor risiko, angka kanker paru di Indonesia untuk pria sekarang sudah masuk ke angka 21 ribu per 100 ribu penduduk di Indonesia. Serta pada wanita sudah memasuki angka 6,5 ribu per 100 ribu penduduk," ujar dr. Evlina Suzanna, SpPA(K), Sekretaris Jenderal Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI), dalam webinar yang digelar, Selasa 8 Februari 2022.
Kanker paru ini memiliki faktor risiko utama yaitu, rokok, riwayat kanker paru dalam keluarga, dan ketiga adalah tempat kerja. Salah satu orang yang bekerja dalam sektor bangunan seperti buruh bangunan serta mandor berisiko sangat tinggi mengalami kanker paru-parusiko. Ada beberapa faktor infeksi dan pasca infeksi yang juga bisa menyebabkan kanker paru.
Prof. dr. Elisna Syahruddin, Sp.P(K), PhD selaku Direktur Eksekutif, Research of Indonesian Association for the Study on Thoracic Oncology (IASTO), mengatakan kanker paru termasuk penyakit dengan angka kematian tinggi, karena sebagian besar pasien baru berobat ke dokter dalam kondisi stadium lanjut.

" Orang-orang dalam kelompok beresiko tinggi terkena kanker paru melakukan skrining dan deteksi dini. Skrining merupakan menemukan suatu penyakit sebelum menjadi kanker. Salah satu usaha kita dalam orang yang belum bergejala tetapi memiliki risiko yang tinggi maka skrining dilakukan dengan CT-Scan Low Dose setiap dua tahun sekali,” ujarnya.
Deteksi dini disarankan kepada mereka dengan faktor resiko dan sudah bergejala. Kanker paru-paru biasanya tidak menimbulkan tanda dan gejala pada tahap awal. Tanda dan gejala muncul ketika penyakit sudah lanjut.
Tanda dan gejala ini antara lain batuk berkepanjangan, batuk berdarah, sesak napas, nyeri dada, suara serak, berat badan turun tanpa sebab yang jelas. Juga sakit tulang dan sakit kepala.
Laporan: Amanda Putri Ivana
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?