Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Dok. Healthcare Access Summit 2019
Dream - Akses pasien terhadap pengobatan inovatif masih menjadi tantangan di Tanah Air. Data Bank Dunia mencatat belanja kesehatan per kapita masyarakat Indonesia pada 2016 sebesar Rp1,6 juta merupakan yang terendah di ASEAN.
Rendahnya belanja kesehatan tersebut merupakan dampak dari terbatasnya akses pada obat-obatan berkualitas tinggi.
Meski masih rendah, Indonesia memiliki potensi yang cukup besar di bidang kesehatan.
Populasi konsumen kelas menengah di Indonesia yang tumbuh 3 persen pada 2017, diperkirakan baru mencapai 85 juta orang pada 2020. Sementara tingkat pertumbuhan konsumen baru yang tinggi sebesar 5 juta setiap tahunnya di kawasan perkotaan.
" Bertumbuhnya populasi menengah memberikan peluang untuk menciptakan solusi pengobatan inovatif bagi pasien di Indonesia, selain upaya yang telah dilaksanakan pemerintah selama ini dalam meningkatkan akses untuk masyarakat yang lebih luas melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)," tutur Anil Argilla, Country Manager Pfizer Indonesia di acara Healthcare Access Summit, Jakarta, Selasa 23 Juli 2019.

Foto: Annisa Mutiara Asharini/Dream
Berdasarkan data BPJS Kesehatan pada Mei 2019, JKN telah mengayomi lebih dari 221 juta orang, atau meningkat dari 208 juta pada 2018.
Ditambah dengan pertumbuhan kelas menengah di Indonesia, tercipta peluang untuk terus mengembangkan akses pengobatan modern dan berkualitas tinggi di Indonesia.
Adanya peningkatan kemampuan membayar dan dukungan untuk pasien dalam mengakses obat-obatan inovatif merupakan tombak untuk mendorong kualitas pengobatan yang efektif di Indonesia.
" Industri farmasi terus bekerja sama dengan pemerintah, pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan lainnya dalam penyediaan opsi layanan pengobatan inovatif demi kepentingan pasien. Kami akan mengembangkan akses pengobatan inovatif dan paket pembiayaan layanan kesehatan yang bekerlanjutan, sehingga pasien dapat memperoleh akses layanan kesehatan yang berkualitas," imbuhnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya