7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ilustrasi (Liputan6.com)
Dream - Varian Delta menjadi ancaman lain di tengah lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia. Infeksi varian ini lebih dialami usia produktif. Yang mengejutkan, varian ini ternyata sudah menyerang anak usia 10 tahun ke bawah.
Temuan ini diungkapkan Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Maxi Reni Rondonuwu.
" Di beberapa rumah sakit kami melihat umur-umur di bawah 18 tahun, 10 tahun sudah ada yang kena (varian Delta)," ujar Maxi.
Maxi mengatakan varian ini dapat menyerang masyarakat di berbagai kelompok usia. Penularannya diklaim jauh lebih cepat ketimbang varian awalnya yang muncul pertama kali di Wuhan, China.
" Meski cepat penularannya, case fatality atau angka kematiannya belum terbukti sangat ganas," kata dia.
Namun demikian, Maxi mengingatkan bukan berarti masyarakat tidak perlu khawatir. Dia mengatakan saat ini case fatality akibat Covid-19 di Indonesia cukup tinggi.
Dia menilai peningkatan kasus harus ditekan. Jika tidak, beban rumah sakit akan semakin berat lantaran terlalu banyak pasien yang harus dirawat.
" Jadi begitu banyak orang kena, akan banyak orang meninggal kalau fasilitas kesehatan kita tidak cukup lagi," kata dia.
Data Kemenkes mencatat ada 211 kasus varian baru Covid-19 muncul di Indonesia. 160 kasus disebabkan infeksi varian Delta.
Kasus-kasus tersebut ditemukan di sembilan provinsi. Rinciannya, 2 kasus di Kalimantan, 1 kasus di Gorontalo, 3 kasus di Kalimantan Tengah, 3 kasus di Sumatera Selatan, 80 kasus di Jawa Tengah, 57 kaus di DKI Jakarta, 2 kasus di Banten, 1 kasus di Jawa Barat, dan 10 kasus di Jawa Timur, dikutip dari Merdeka.com.
Dream - Kasus Covid-19 varian delta strain B.1.617.2 ditemukan di Jakarta, Bangkalan dan Madura. Penambahan kasus Covid-19 di Indonesia per 17 Juni juga naik sigifikan mencapai 8.189.
Seperti diperkirakan, virus Covid-19 varian delta lebih cepat menular. Rupanya, baru saja muncul varian Delta atau B.1.617.2 di India, kini sudah ada turunannya yang disebut “ Delta Plus” atau AY.1.
Varian ini diklaim lebih mudah menular dan menurunkan efektivitas vaksin. Benarkah hal tersebut? Berikut fakta-fakta seputar mutasi Covid-19 Delta Plus, dikutip dari KlikDokter.
1. Muncul Pertama Kali di India
Laporan kemunculan Delta Plus pertama kali dilaporkan di India pada Oktober 2020. Varian ini disebut 40-50 persen lebih menular daripada varian Alfa yang pertama kali dilaporkan di Inggris.
2. Terjadi Mutasi Protein Spike
Delta Plus adalah mutasi virus corona dari strain B.1.617.2 yang lebih agresif. Strain inilah yang mendorong gelombang kedua infeksi COVID-19 di India. Karakteristik varian ini adalah adanya mutasi K417N pada protein spike virus SARS-CoV 2, virus penyebab infeksi corona. Protein spike-lah yang membantu virus masuk dan menginfeksi sel manusia.
3. Kebal terhadap Pengobatan
Hingga saat ini memang belum ada bukti pasti soal seberapa parah infeksi yang disebabkan oleh varian Delta Plus. Hal ini karena adanya mutasi K417N, varian baru ini disebut lebih kebal terhadap vaksin dan terapi obat.
4. Sudah Ada Sejak Maret
Dr. VK Paul, anggota NITI Aayog (badan resmi transformasi India), mengatakan, varian Delta Plus sebenarnya sudah ada sejak Maret lalu. Saat itu varian ini belum terlalu mengkhawatirkan.
5. Sudah Menyebar di Sejumlah Negara
Menurut PHE (Public Health Profiles) Inggris, sejauh ini ada 63 genom B.1.617.2 dengan mutasi K417N yang telah diidentifikasi. Enam di antaranya berasal dari India.
Sementara itu, ada 36 kasus Delta Plus yang dikonfirmasi di Inggris. Angka tersebut menyumbang sekitar 6 persen kasus di Amerika Serikat. Dua kasus di Inggris ditemukan lebih dari 14 hari setelah program vaksinasi dosis kedua.
Negara lain yang sudah melaporkan keberadaan kasus Delta Plus, antara lain, 1 kasus di Kanada, Jerman dan Rusia; 2 kasus di Nepal; 4 dari Swiss; 9 dari Polandia; 12 dari Portugal; 13 dari Jepang; serta 14 dari Amerika Serikat.
Lantas, apakah Delta Plus sudah ada di Indonesia? Sejauh ini, otoritas kesehatan setempat belum memastikannya. Namun, varian Delta diketahui sudah ada di Indonesia dan menyebar di sejumlah daerah.
Selengkapnya baca di sini.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?