Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Berhenti Makan Gula Bikin Pusing dan Mudah Marah? Ini Cara Meredakan Gejalanya
Mengapa Sulawesi Dikenal dengan Nama Celebes? Begini Asal-usul Nama yang Dipakai Bangsa Eropa
Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym
IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor
8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur
Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif
Supandi Dan Arsi (jatim.kemenag.go.id)
Dream - Berangkat ke Tanah Suci untuk berhaji butuh biaya banyak. Meski demikian, pasangan suami-istri dengan penghasilan pas-pasan ini mampu mengumpulkan ongkos untuk menunaikan rukun Islam ke lima ini.
Merekalah Supandi dan Arsi. Pasangan asal Desa Patemon, Kecamatan Jati Banteng, Situbondo, itu bekerja sebagai tukang dan kuli. Supandi yang berusia 50 tahun sebagai tukang. Sementara sang istri yang lima tahun lebih muda menjadi kulinya.
Bukan di tanah kelahiran. Mereka harus mengadu nasib ke pulau seberang. Bali. Selama delapan tahun mereka memeras keringat dan membanting tulang untuk mengumpulkan ongkos untuk naik haji.
Upah mereka tak besar-besar amat untuk hidup mereka di tanah rantau. Pertama kali menginjak Pulau Dewata, Supandi dibayar Rp55 ribu perhari. Sementara Arsi menjadi kuli dengan upah Rp50 ribu tiap harinya.
Arsi merupakan satu-satunya wanita yang ikut bekerja di proyek. Selama bekerja, ia bersama suaminya tidur di tempat yang disediakan oleh proyek.
Sebelum tahun 2010, mereka bekerja seadanya. Kadang mengumpulkan dan mengangkut kayu dari gunung. Ada kalanya mereka bekerja mengangkut pasir.
Keinginan berhaji datang begitu kuat. Sehingga pasutri ini mulai menabung dari hasil jerih payah mereka. Tiap hari, keduanya hanya belanja sepuluh ribu untuk makan berdua. Sisanya ditabung.
“ Seadanya, sepuluh ribu untuk makan sehari berdua, cukup sayur dan ikan asin,” tutur Arsi, sambil sesenggukan. Tapi, mimpi itu terwujud tahun ini.
Sepulang dari berhaji nanti, Supandi dan Arsi akan kembali menjalani pekerjaannya sebagai kuli di Bali. Mereka berharap kelak bisa menghajikan anaknya dari hasil pekerjaannya.
Sumber: jatim.kemenag.go.id Baca Juga:
Advertisement
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan


Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

Berhenti Makan Gula Bikin Pusing dan Mudah Marah? Ini Cara Meredakan Gejalanya