Kumandang Azan dari Dalam Perut Bumi

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 28 Agustus 2015 07:31
Kumandang Azan dari Dalam Perut Bumi
Masjid itu terletak 1.700 meter di bawah permukaan tanah.

Dream - Cahaya merah sudah mencapai ufuk timur. Beberapa orang berkeringat melepas rompi yang dikenakannya, yang lain sibuk mencopot helm bersenter yang digunakannya, sebagian lain melepas sepatu bot yang dipenuhi lumpur. Mereka bersiap mengambil air wudhu.

Usai mengambil wudhu sebagian ada yang bercakap-cakap. Ada pula yang melepaskan lelah dengan duduk-duduk di lantai karpet berwarna biru. Tembok setinggi dua meter berwarna kuning menjadi penghias.

Tak lama kemudian azan mulai menggema. Suaranya memantul di antara dinding-dinding batuan yang telah diratakan dengan semen. Meski begitu tampak sederhana, ada beberapa baut penahan dinding yang dipasang untuk menghindari robohnya atap.

Beberapa orang yang tadi sedang duduk akan merasakan gema suara itu memenuhi setiap sudut ruangan. Bak berada di dalam gua, suara azan itu memantul bersahut-sahutan.

Itulah gambaran sederhana dari masjid Jami' Baabul Munawwar. Masjid yang terletak 1,7 kilometer dari permukaan tanah itu dibangun di areal tambang bawah tanah di kawasan Tembagapura, Timika, Papua. Meski berada di perut bumi, masjid itu mampu menampung 250 jemaah.

Masjid itu sendiri bisa dicapai melalui terowongan di pintu Ali Boediardjo. Ali Boediarjo merupakan nama Presiden Direktur PT Freeport yang pertama. Bagi para jemaah yang belum terbiasa mengunjungi masjid ini kewaspadaan harus diperhatikan. Sebab, kadar oksigen di tempat ini tipis. Hal itu akan sedikit membuat kepala terasa pusing dan pernafasan agak tersengal-sengal.

Meski oksigen di lokasi ini sangat tipis, masjid ini tetap memiliki udara bersih. Rupanya ada sebuah teknologi canggih yang sengaja dipasang untuk memurnikan udara di bawah tanah. Selain teknologi pemurni udara, ada pula kipas penyedot udara (exhaust fan) yang berfungsi menyedot udara kotor keluar dari lokasi itu.

Masjid ini diresmikan pada awal Juni 2015. Arsiteknya adalah Alexander Mone dan struktur pembangunannya dikerjakan Andrew Parhusip.

Lebih uniknya lagi, di samping masjid ini juga berdiri sebuah gereja bernama Gereja Oikumene Soteria. Masjid dan gereja ini membuktikan jika toleransi bisa terasa hangat berdampingan hingga ke perut bumi.

Beri Komentar