Angeline, Kisah `Arie Hanggara' yang Terulang

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 12 Juni 2015 16:31
Angeline, Kisah `Arie Hanggara' yang Terulang
Terbunuhnya bocah Angeline menyulut amarah publik. Kisah ini mengingatkan akan kisah kejamnya kematian Arie Hanggara, bocah delapan tahun yang meninggal pada 8 November 1984 akibat tindak kekerasan.

Dream - Bocah delapan tahun, Angeline, harus meregang nyawa lantaran mengalami tindak kekerasan. Sejumlah kekerasan termasuk fisik, seksual, psikologis kerap dia alami di usianya yang masih begitu kecil.

Lebih tragis, jenazah Angeline ditemukan terkubur di bagian belakang rumah orangtua angkatnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar, setelah sebelumnya dilaporkan hilang. Dia dikuburkan secara tidak layak di bawah kandang ayam rumah itu dengan posisi memeluk boneka.

Kasus ini mendapat porsi sebagai berita utama sejumlah media nasional. Sejak jenazah Angeline ditemukan pada Rabu, 10 Juni 2015, semua media berlomba mewartakan kabar ini, bahkan mengalahkan berita prosesi pernikahan putra sulung Presiden Joko Widodo.

Kasus ini juga menggugah kemarahan publik Indonesia. Kecaman muncul dari publik, tersiar lewat media sosial. Banyak pula masyarakat yang berharap pelaku dihukum dengan hukuman setimpal, bahkan meminta agar pelaku dihukum mati.

Kisah pilu Angeline mengingatkan publik pada tragisnya kematian Arie Hanggara. Bocah ini meninggal pada 8 November 1984 akibat mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh ayah kandungnya, Machtino dan ibu tirinya, Santi. Kala itu usianya belum genap delapan tahun.

Tino dan Santi dengan begitu tega menghajar Arie. Tamparan, pukulan, cubitan kerap dialami bocah ini dari kedua orang yang seharusnya menyayanginya, hanya karena dianggap nakal.

Tatkala mendapat kekerasan, Arie hanya diam. Dia seperti menahan rasa sakit yang kerap berulang dialaminya dan tidak berusaha memberontak.

Tetapi, diamnya Arie tidak membuat hati Tino dan Santi luluh. Dua orang ini semakin kalap menghajar bocah kecil itu.

Arie pun kerap dikurung di kamar mandi lantaran telah melakukan kesalahan. Puncaknya, Arie disuruh membersihkan kamar mandi tetapi malas-malasan. Hal itu membuat Tino dan Santi semakin berang dan terus menghajarnya, hingga bocah itu terkapar.

Arie sempat dilarikan ke rumah sakit. Sayang, nyawanya tidak tertolong. Tubuhnya dipenuhi luka akibat pemukulan.

Tino dan Santi akhirnya mendapat ganjaran. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menvonis keduanya dengan hukuman penjara selama lima tahun.

Kisah pilu Arie menginspirasi Sutradara Frank Rorimpandey mengangkatnya ke layar lebar. Film yang melibatkan aktor Deddy Mizwar ini meraih sukses dan dilihat ratusan ribu orang.

Kasus terbunuhnya Angeline dan Arie Hanggara menunjukkan masih rendahnya kepedulian terhadap perlindungan anak. Akankah kasus serupa harus terulang kembali di masa mendatang? (Ism) 

Beri Komentar