Buku Harian WN Malaysia, Istri Tentara ISIS

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 22 September 2014 07:00
Buku Harian WN Malaysia, Istri Tentara ISIS
Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu menyebut dirinya Shams. Dia melakukan perjalanan ke negara yang dilanda perang itu melalui Turki.

Dream - " All You Need Is Love" yang dinyanyikan The Beatles mungkin cocok untuk menggambarkan kehidupan seorang wanita Malaysia ini. Wanita yang menikah dengan anggota organisasi teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Wanita itu mengisahkan kehidupannya mulai dari datang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS, hingga akhirnya menikah dengan salah satu anggota ISIS melalui perjodohan.

Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu menyebut dirinya Shams. Dia melakukan perjalanan ke negara yang dilanda perang itu melalui Turki pada bulan Februari. Dalam blognya 'Diary of Muhajirah', Shams mengatakan ia senang tapi juga sedih karena meninggalkan keluarganya di Malaysia.

Pada awalnya, orangtua Shams kecewa dan marah. Tapi kemudian mendukungnya dan merasa bahagia dengan pilihan putrinya. Setelah dua bulan di Suriah, Shams bertunangan dengan seorang pejuang ISIS. Mereka kemudian menikah dalam perjodohan yang diatur oleh teman serumah.

Dia bertemu dan menikah dengan suaminya pada hari yang sama. Awalnya ia 'gugup (dan) takut' sebelum suaminya menyingkap penutup wajahnya. " Dia tersenyum. Dan ia mengajukan pertanyaan yang saya tidak akan pernah lupa selama sisa hidup saya. Bisakah kita menikah hari ini? Setelah Ashar?"

" Jauh di dalam hati saya berteriak, Tidak. Tapi saya tidak tahu mengapa menjawab Ya," tulis Shams dalam blognya. Shams kemudian memperoleh izin dari ayahnya untuk menikah melalui telepon. " Saya berbicara tentang masalah ini kepadanya dan saya bisa mendengar ibuku berteriak dalam sukacita di belakang," katanya.

Menurut Shams, tidak jarang pasangan yang baru menikah di ISIS berasal dari negara yang tidak sama, sehingga bahasa menjadi kendala. Shams menulis bahwa dia dan suaminya mendownload aplikasi kamus agar dapat berkomunikasi satu sama lain, pada tahap awal pernikahan mereka.

Shams juga menceritakan awal rasa cintanya tumbuh untuk suami barunya itu. Setelah berdoa bersama pagi hari setelah pernikahan mereka " Dia berbalik dan tersenyum pada saya. Dan saya bisa merasakan sesuatu. Ya, saya kira saya jatuh cinta dengan seseorang, suami saya."

Empat hari setelah upacara pernikahan, Shams dihadapkan risiko menikah dengan seorang pejuang ISIS, setelah mengunjungi rumah seorang wanita yang suaminya tewas dalam pertempuran.

" Kami memasuki rumah dan saya melihat ada hampir 20 orang di sana. Tidak ada yang menangis," katanya. " Saya pulang ke rumah. Suami saya hanya diam. Mungkin dia mengerti saya butuh waktu. Saya menatap wajahnya, saya menikah dengan dia selama 4 hari dan saya merasa sangat sakit."

" Abu al-Baraa," tulisnya, merujuk pada nama suaminya, " jangan tinggalkan saya terlalu cepat." Sebelas hari setelah mereka menikah, Shams mengatakan suaminya mendapat tugas untuk ke medan tempur.

" Itu berita yang paling menggetarkan jantung saya sejak datang ke Suriah. Saya tidak dapat menyangkal bahwa hati saya berdarah dan saya tidak bisa menahan air mata saya," tulisnya.

" Setelah sarapan, saya mempersiapkan tasnya dan menyerahkan Kalash (senapan) kepadanya. Saya bahkan tidak bisa melihat wajahnya, rasa sakit itu membunuh saya."

Suami Shams kemudian melihat wajah murung istrinya dan mengatakan, " Habibty, saya menikah dengan Jihad sebelum saya menikah dengan Anda. Jihad adalah istri pertama saya, dan Anda kedua. Saya harap Anda mengerti."

" Dia mencium kening saya. Saya berdiri di pintu berharap bahwa ia akan mengetuk pintu atau kembali, tapi ternyata tidak," lanjutnya.

" Segera setelah dia pergi, saya merasa begitu banyak kekosongan. Meskipun itu hanya 11 hari setelah pernikahan kami. Saya merasa seperti kami telah hidup bersama selama 11 tahun."

" Sekarang, hal itu telah menjadi rutinitas. Setiap kali ia meninggalkan rumah, saya akan mengingatkan diri sendiri bahwa ini bisa menjadi yang terakhir kalinya bertemu dengan dia." " Dan setiap kali sebelum dia pergi, dia mengatakan kepada saya 'jika saya tidak kembali, mungkin kita bertemu di Jannah. InsyaAllah'."

Pada bulan Agustus, Shams hamil anak pertama. Dia pun mengunjungi rumah sakit setempat untuk memeriksakan kandungannya. (Ism)

Beri Komentar
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik