Hukum Penggunaan Zakat untuk Modal Usaha

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 4 Februari 2015 12:30
Hukum Penggunaan Zakat untuk Modal Usaha
Tidak sedikit praktik penggunaan zakat untuk modal usaha. Bagaimana hukumnya?

Dream - Keberadaan zakat sebagai salah satu amalan yang diwajibkan dalam Islam sejatinya bermakna untuk menyejahterakan umat. Zakat biasanya disalurkan untuk memenuhi kebutuhan kaum yang kurang mampu agar tetap bisa menjalankan kehidupan.

Meski demikian, tidak sedikit praktik penggunaan zakat untuk modal usaha. Hal ini dimaksudkan agar kelompok mustahiq (penerima zakat) dapat membuat usaha sendiri agar bisa mandiri secara finansial. Lantas, bagaimana hukumnya jika harta hasil pengumpulan zakat digunakan sebagai modal usaha para mustahiq?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa yang membolehkan penggunaan zakat untuk modal usaha. Hal itu tertuang dalam Fatwa Nomor 4 Tahun 2003 tentang Penggunaan Dana Zakat untuk Istitsmar (investasi).

Dalam fatwa itu disebut beberapa syarat penggunaan zakat untuk modal usaha. Pertama, zakat harus disalurkan pada usaha yang dibenarkan oleh syariah dan peraturan yang berlaku.

Syarat ke dua, usaha yang mendapat modal dari dana zakat merupakan usaha yang diyakini akan memberikan keuntungan didasarkan pada studi kelayakan. Ke tiga, usaha tersebut harus dibina dan diawasi oleh pihak yang memiliki kompetensi.

Ke empat, usaha tersebut harus dijalankan oleh pihak yang dapat dipercaya. Syarat ke lima, modal usaha tersebut harus mendapat jaminan dari pemerintah dan apabila mengalami kerugian maka pemerintah harus menggantinya.

Ke tujuh, tidak boleh ada kaum dhuafa yang kelaparan atau membutuhkan biaya ketika zakat disalurkan untuk modal usaha. Syarat terakhir, penggunaan dana zakat untuk modal usaha harus dibatasi waktunya. 

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup