Kiki Menjual Cobek Di Kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. (Foto: Indra Komara/Dream.co.id)
Dream - Sebelum hijrah ke Jl Sekolah Duta V, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Kiki sempat menjual cobek di kawasan dekat SD Bhakti Mulya 400, Jl. Gedung Pinang, Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Di sana, kiki sering mangkal berdampingan dengan penjual gorengan, bernama Rusi. Sekitar dua bulan, wanita berusia 37 tahun mengenal sosok Kiki. Menurut dia, Kiki adalah anak yang hebat, pekerja keras, dan peduli dengan keluarga.
" Biasanya dia di sini sama saya, saya juga kadang kasihan lihatnya. Dulu Kiki sempet cerita, kalau ibunya sakit tumor payudara di Bandung. Dia cuma pengen ibunya sembuh,” kata Rusi, pada Dream.co.id, Rabu 13 Mei 2015.
Tapi Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Ibunda kembali kepada-Nya. Kiki dan saudara kandungnya menjadi yatim piatu.
Rusi pun tak bercerita tentang sosok Kiki, menurut dia, bocah berbadan kurus itu ramah sama siapa saja dan sering melempar senyum. Tidak cuma itu, karena merasa kasihan dengan Kiki, Rusi juga sempat menawarinya untuk tinggal menetap bersamanya.
“ Waktu itu saya sempat nawarin dia untuk tinggal bareng saya. Saya kan nggak punya anak laki-laki, jadi saya tawarin, tapi dia nggak mau. Katanya takut dimarahin sama (mendiang) ibunya,” ucap Rusi.
Seperti diketahui, kedua orang tua Kiki kini sudah berpulang lebih awal. Untuk menyambung hidup, kiki tinggal bersama empat saudaranya di Kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan dan hanya mengandalkan tumpukan cobek yang dijual dengan harga Rp35 ribu sampai Rp75 ribu. (Ism, Laporan: Indra Komara)
© Dream
Nasib Bocah Penjual Cobek di Kawasan Elite Ibukota
Dream - Ada hal menyentuh di kawasan elite ibukota, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Di tengah lalu lalang mobil mewah terlihat jelas sosok bocah tertidur pulas dengan tangan terlipat dan kepala tertelungkup di pinggir trotoar beralaskan tanah.
Ketika dihampiri, wajahnya nampak lelah, usai memikul tumpukan cobek dengan berat hampir 30 kilogram. Bocah kecil itu bernama Kiki, dia berjuang mencari rejeki di Jakarta bersama keempat saudaranya dengan berkeliling menjual cobek yang terbuat dari batu.
Kiki mengaku sudah tidak memiliki orangtua. Ibundanya meninggal karena tumor payudara, sang ayah sudah berpulang lebih awal. Di Jakarta, dia tinggal bersama keempat saudaranya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Panasnya matahari dan hujan bukan hambatan bagi bocah berusia 11 tahun itu untuk berjualan. Sejak pagi sekitar pukul 08.00 WIB, Kiki dan saudaranya sudah siap untuk mencari peruntungan mengandalkan bajaj menuju kawasan Pondok Indah dan Permata Hijau.
Kiki bertugas untuk berjualan seorang diri di kawasan elite Pondok Indah, sementara sang kakak berpencar ke kawasan Permata Hijau. Saat ditemui Dream.co.id, Rabu, 13 Mei 2015, Kiki nampak kelelahan. Rasa sakit akibat memikul cobek tak bisa ditutupi meski bocah berbadan kurus itu terus menebar banyak senyum.
Setiap harinya Kiki selalu berkeliling untuk berjualan sejauh 1 kilometer. " Biasanya mikulcobek nggak terlalu jauh, kalau udah capek balik lagi ke sini (trotoar)," ucap Kiki.
Di sela perbincangan, tiba-tiba seorang pengendara motor menghampiri bocah berbaju merah itu. Bukan bermaksud untuk membeli cobek, tetapi pengendara motor itu mlipir untuk memberi sebungkus makanan. Selang 10 menit kemudian, satu pengendara motor lainnya melakukan hal yang sama, memberi makanan untuk Kiki.
Bocah yang sudah putus sekolah itu mengaku selama berjualan cobek sedikit yang membeli peralatan dapur tersebut, namun rejeki terus mengalir dari pengguna jalan yang sering memberinya bantuan dalam makanan atau uang.
Terakhir, Kiki duduk di bangku Sekolah Dasar kelas V di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Ihsan, Padalarang, Bandung. Harga satu buah cobek dijualnya mulai dari Rp35 ribu sampai Rp75 ribu. Bocah yang bercita-cita jadi tentara itu punya mimpi untuk memiliki motor setelah hasil dari kerja kerasnya sudah terkumpul. Semoga mimpimu tercapai dik Kiki.. (Ism, Laporan: Indra Komara)
© Dream
Senyum Kiki, Bocah Penjual Cobek di Pondok Indah
Dream - Kiki, bocah 11 tahun itu setiap hari memikul beban sekitar 30 kilogram. Cobek batu. Peralatan dapur yang kini sudah jarang digunakan itu menjadi bahan utamanya mencari nafkah.
Bocah putus sekolah dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Ihsan di Padalarang, Bandung ini menjajakan cobeknya di kawasan elite Pondok Indah, Jakarta Selatan. Setiap hari, kiki bersama ketiga saudara kandungnya berkeliling di selatan Jakarta.
Ibundanya telah lama meninggal karena kanker payudara. Sang ayah, berpulang lebih dulu. Kini, Kiki dan saudaranya tinggal bersama paman di sekitar Lebak Bulus.
Meski hidupnya terlihat berat, Kiki tetap tersenyum. Berikut lebih dekat dengan Kiki saat ditemui Dream.co.id di Pondok Indah. GALERI FOTO: Senyum Kiki, Bocah Penjual Cobek di Pondok Indah. (Ism)
© Dream
Kiki si Penjual Cobek Coba Wujudkan Mimpi
Dream - Kiki, bocah 11 tahun penjual cobek itu sudah menginjakkan kakinya di Jakarta sejak dua tahun lalu. Bocah putus sekolah dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Ihsan, Padalarang itu berangkat bersama keempat saudaranya dari Padalarang, Bandung, Jawa Barat.
Bersama saudaranya itu kini dia tinggal di sebuah kontrakan di Kawasan Komplek Pertanian, Cirendeu, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Kiki kini hidup bersama pamannya di Jakarta. Ibunda meninggal dunia karena kanker payudara, sang ayah berpulang lebih dulu.
Setiap pekan, Kiki selalu kembali ke kampung halamannya. Tujuannya hanya satu, memberikan hasil kerjanya di Jakarta pada Uwak (kakak alm ibunda Kiki).
" Setiap Minggu selalu pulang ke Bandung, ngasih uang ke Uwa, ditabung lewat arisan," ucap Kiki tersipu malu saat ditemui Dream.co.id di kawasan elite Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Kiki yang setiap hari memikul 30 kilogram dagangannya itu mengaku, hasil tabungannya nanti ingin dibelikan satu buah motor favoritnya. " Uangnya mau dipake buat beli motor, motor Satria," katanya sambil menunduk malu menyampaikan caranya mewujudkan mimpinya.
Rusi, penjual gorengan yang sempat dua bulan terakhir akrab dengan Kiki juga mengatakan, bocah itu punya semangat yang besar untuk berjuang hidup. Rusi sering bertukar cerita saat Kiki masih berkeliling menjual cobek di Jalan Gedung Pinang, Pondok Indah, Jakarta Selatan.
“ Dulu dia suka mangkal di sini, ngobrol sama saya. Tapi sekarang sudah nggak pernah keliatan. Kata dia (Kiki), kalau untuk cari makan di kampung, Kiki suka mikul air, dibayar cuma Rp10 ribu,” ujar Rusi.
Sekarang, Kiki sudah tidak lagi terlihat di Jl. Gedung Pinang, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Bocah yang punya cita-cita ingin jadi tentara itu kini berjualan cobek di sekitaran Jl Sekolah Duta V, Pondok Indah, Jakarta Selatan. (Ism)
© Dream
Nasib Bocah Penjual Cobek di Kawasan Elite Ibukota
Dream - Ada hal menyentuh di kawasan elite ibukota, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Di tengah lalu lalang mobil mewah terlihat jelas sosok bocah tertidur pulas dengan tangan terlipat dan kepala tertelungkup di pinggir trotoar beralaskan tanah.
Ketika dihampiri, wajahnya nampak lelah, usai memikul tumpukan cobek dengan berat hampir 30 kilogram. Bocah kecil itu bernama Kiki, dia berjuang mencari rejeki di Jakarta bersama keempat saudaranya dengan berkeliling menjual cobek yang terbuat dari batu.
Kiki mengaku sudah tidak memiliki orangtua. Ibundanya meninggal karena tumor payudara, sang ayah sudah berpulang lebih awal. Di Jakarta, dia tinggal bersama keempat saudaranya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Panasnya matahari dan hujan bukan hambatan bagi bocah berusia 11 tahun itu untuk berjualan. Sejak pagi sekitar pukul 08.00 WIB, Kiki dan saudaranya sudah siap untuk mencari peruntungan mengandalkan bajaj menuju kawasan Pondok Indah dan Permata Hijau.
Kiki bertugas untuk berjualan seorang diri di kawasan elite Pondok Indah, sementara sang kakak berpencar ke kawasan Permata Hijau. Saat ditemui Dream.co.id, Rabu, 13 Mei 2015, Kiki nampak kelelahan. Rasa sakit akibat memikul cobek tak bisa ditutupi meski bocah berbadan kurus itu terus menebar banyak senyum.
Setiap harinya Kiki selalu berkeliling untuk berjualan sejauh 1 kilometer. " Biasanya mikulcobek nggak terlalu jauh, kalau udah capek balik lagi ke sini (trotoar)," ucap Kiki.
Di sela perbincangan, tiba-tiba seorang pengendara motor menghampiri bocah berbaju merah itu. Bukan bermaksud untuk membeli cobek, tetapi pengendara motor itu mlipir untuk memberi sebungkus makanan. Selang 10 menit kemudian, satu pengendara motor lainnya melakukan hal yang sama, memberi makanan untuk Kiki.
Bocah yang sudah putus sekolah itu mengaku selama berjualan cobek sedikit yang membeli peralatan dapur tersebut, namun rejeki terus mengalir dari pengguna jalan yang sering memberinya bantuan dalam makanan atau uang.
Terakhir, Kiki duduk di bangku Sekolah Dasar kelas V di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Ihsan, Padalarang, Bandung. Harga satu buah cobek dijualnya mulai dari Rp35 ribu sampai Rp75 ribu. Bocah yang bercita-cita jadi tentara itu punya mimpi untuk memiliki motor setelah hasil dari kerja kerasnya sudah terkumpul. Semoga mimpimu tercapai dik Kiki.. (Ism, Laporan: Indra Komara)
© Dream
Senyum Kiki, Bocah Penjual Cobek di Pondok Indah
Dream - Kiki, bocah 11 tahun itu setiap hari memikul beban sekitar 30 kilogram. Cobek batu. Peralatan dapur yang kini sudah jarang digunakan itu menjadi bahan utamanya mencari nafkah.
Bocah putus sekolah dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Ihsan di Padalarang, Bandung ini menjajakan cobeknya di kawasan elite Pondok Indah, Jakarta Selatan. Setiap hari, kiki bersama ketiga saudara kandungnya berkeliling di selatan Jakarta.
Ibundanya telah lama meninggal karena kanker payudara. Sang ayah, berpulang lebih dulu. Kini, Kiki dan saudaranya tinggal bersama paman di sekitar Lebak Bulus.
Meski hidupnya terlihat berat, Kiki tetap tersenyum. Berikut lebih dekat dengan Kiki saat ditemui Dream.co.id di Pondok Indah. GALERI FOTO: Senyum Kiki, Bocah Penjual Cobek di Pondok Indah. (Ism)