BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
Sumur Raumah, Madinah (Sumber: Mirajnews.com)
Dream - Begitu banyak tempat dan bangunan di Arab Saudi menjadi saksi sejarah kehidupan masyarakat pada masa nabi dan rasul. Salah satu di antaranya adalah sumur Raumah.
Keberadaan Raumah memang tak menjadi sorotan banyak orang layaknya peninggalan-peninggalan bersejarah lain, seperti Masjid Al Haram, Masjid Nabawi, atau Kompleks Pemakaman Junnat Al Baqi.
Namun ternyata, di balik sumur ini tersimpan kisah menarik seputar kedermawanan sahabat Rasulullah SAW, Khalifah Utsman bin Affan.
Sumur Raumah merupakan salah satu peninggalan sejarah masa Khalifah Utsman bin Affan RA. Sumber air ini berada tepat di sebelah Masjid Qiblatain, Madinah, Arab Saudi.
Dahulu, masjid ini dimiliki oleh seorang Yahudi. Dikisahkan, pada masa itu Rasulullah dan kaum Muhajirin tengah berada di kota Madinah. Kala itu Madinah sedang dalam kondisi paceklik. Masyarakatnya sulit mendapatkan air bersih, baik untuk minum maupun berwudhu.
Keadaaan ini tentu saja sangat menyulitkan kaum Muhajirin. Lantaran mereka terbiasa hidup dengan air zam-zam melimpah di Kota Mekah.
Satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan saat itu adalah sumur Raumah. Kondisi ini dimanfaatkan oleh si pemiliki sumur untuk memperjualbelikan air miliknya. Masyarakat Madinah diwajibkan membeli dan antre untuk mendapatkan air dari sumur Raumah.
Mendengar hal itu, sahabat nabi yang dermawan, Khalifah Utsman bin Affan berusaha membebaskan sumur tersebut dari pemiliknya. Beliau mendatangi rumah pemilik sumur dan menawarnya dengan harga yang tinggi.
Namun sang pemilik tak ingin menjual sumurnya. Utsman tetap berteguh hati dan kembali menawar sumur itu dengan harga yang lebih tinggi.
Hingga akhirnya, Utsman menawarkan jalan keluar kepada pemilik sumur dengan cara membeli setengah dari sumur itu. Mendengar tawaran itu pemilik Yahudi langsung menerimanya dengan anggapan dirinya akan mendapat untung dua kali lipat.
Kesepakatan tersebut dilakukan dengan aturan kepemilikan sumur secara bergantian. Satu hari dimiliki Utsman dan satu hari dimiliki Yahudi.
Saat tiba gilirannya, Utsman meminta kepada seluruh penduduk Madinah untuk mengambil air secara gratis dari sumur dan mengambilnya dengan ukuran banyak agar cukup untuk persediaan dua hari. Karena keesokan harinya sumur tersebut akan berganti pemilik.
Esok harinya, sumur tersebut sepi tanpa pembeli karena penduduk masih memiliki cadangan air. Akibat kondisi ini, si Yahudi pemilik sumur mendatangi Utsman dan memintanya untuk membeli separuh lagi sumur miliknya. Akhirnya dibelilah separuh sumur tersebut dengan harga yang sama pada saat pembelian pertama, yakni 20.000 dirham.
Sumur Raumah pun menjadi milik Khalifah Utsman sepenuhnya. Setelah itu beliau mewakafkan Sumur Raumah untuk kepentingan para penduduk. Siapapun diperbolehkan mengambil air dari sumur itu termasuk pemilik lamanya, si orang Yahudi.
Seiring berjalannya waktu, area di sekitar sumur banyak ditumbuhi pohon kurma yang terus bertambah jumlahnya. Saat ini diperkirakan ada sekitar 1.550 pohon kurma di sana.
Pohon-pohon kurma itu kini dikelola oleh Departemen Pertanian Arab Saudi. Kurma-kurma yang dihasilkan dijual oleh Departemen Pertanian ke pasar-pasar dan setengah hasil penjualan kurma diberikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin.
Uniknya, setengah pendapatan lagi disimpan pemerintah Saudi pada salah satu bank dengan rekening atas nama Utsman bin Affan, di bawah pengawasan Departemen Pertanian.
Kabarnya, uang simpanan di rekening tersebut telah digunakan untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel bintang 5 yang cukup besar di salah satu kawasan strategis dekat Masjid Nabawi.
Kini, hotel tersebut sudah dalam tahap penyelesaian dan akan segera disewakan. Diperkirakan omsetnya bakal mencapai 50 juta riyal per tahun. Untuk mengenang kedermawanan sang khalifah, hotel ini pun diberi nama Utsman bin Affan.
Advertisement
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
