Masjid Cut Meutia, dari Kantor Belanda Hingga Markas Jepang

Reporter : Kusmiyati
Rabu, 25 Juni 2014 12:05
Masjid Cut Meutia, dari Kantor Belanda Hingga Markas Jepang
Masjid Cut Meutia punya sejarah panjang. Bangunan itu memang tidak dirancang untuk masjid. Itu mengapa masjid ini tak berkubah maupun menara.

Dream - Masjid Cut Meutia. Inilah masjid unik di Jakarta. Tak seperti masjid pada umumnya. Tempat ibadah ini tak punya kubah dan menara. Terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, masjid ini banyak didatangi umat muslim dari penjuru nusantara.

" Walaupun bangunannya tidak seperti masjid, tetapi yang datang untuk beribadah di Masjid Cut Meutia berasal dari berbagai daerah di Indonesia,"  tutur penjaga Masjid Cut Meutia, Ayi Supriatna, saat ditemui Dream.co.id di Jakarta, Rabu 25 Juni 2014.

Tempat ibadah yang terletak di dekat Stasiun Gondangdia juga dikenal sebagai masjid para pejabat. Namun, ini hanya sekadar julukan. Sebab pada nyatanya, semua umat muslim bida beribadah di sini. Tanpa memandang pangkat.

" Semua orang bisa ke sini. Cerita masjid pejabat itu karena dulu saat ada pengajian di salah satu rumah pejabat, tempatnya tidak muat saking banyaknya jamaah, makanya pindah ke sini," tambah pria yang menjadi anggota Remaja Islam Masjid Cut Meutia angkatan 1974 ini.

Masjid yang terletak di Jalan Taman Cut Meutia Nomor 1, Jakarta Pusat, ini punya sejarah panjang. Bangunan itu memang tidak dirancang untuk masjid. Itu mengapa masjid ini tak berkubah maupun menara.

" Bangunannya tidak seperti masjid karena memang dulunya perkantoran. Ini pun banyak direnovasi, misalnya tangga di dalam ditiadakan karena kan untuk salat agak susah kalau ada tangga," ujar Ayi.

Mulanya, gedung yang memjadi bangunan beryingkat pertama di Menteng ini merupakan kantor NV De Bouwpleg, atau kantornya para arsitek Belanda. Lantai dua gedung itu dulu digunakan sebagai kantor oleh Jendral van Heuis.

Setelah penjajah Belanda meninggalkan Indonesia, gedung tersebut digunakan oleh tentara Jepang berkuasa kala itu. Gedung itu beralih fungsi menjadi Markas Besar Angkatan Laut Jepang pada Perang Dunia II.

Setelah Indonesia merdeka, gedung itu kembali beralih fungsi. Pada kurun 1959 hingga 1960, bangunan ini berturut-turut dijadikan kantor Wali kota Jakarta Pusat, kantor PAM, kantor Dinas Urusan Perumahan Jakarta, dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada zaman kepemimpinan Abdul Haris Nasution.

Setelah MPRS pindah ke Senayan, gedung tersebut diwakafkan kepada anggkatan 66 Yonif Yos Sudarso untuk digunakan sebagai tempat beribadah. Namun, selama tujuhbelas tahun gedung itu hanya jadi tempat ibadah tanpa status masjid.

Status masjid baru tersemat pada 1987. Saat itu, keluar Surat Keputusan Gubernur DKI Nomor 5184/1987 tanggal 18 Agustus, yang menetapkan bangunan ini resmi menjadi masjid tingkat provinsi. Jadilah nama Masjid Cut Meutia. Nama Cut Meutia diambil dari jalan di sana.

Pada 1961, Masjid Cut menjadi gedung cagar budaya. Bangunan itu kini berada di bawah Dinas Museum dan Sejarah. Dengan status ini, fungsi gedung bisa diubah, namun bentuk bangunan tidak boleh dirombak total. Hanya boleh direnovasi.

Tigapuluh tahun silam, dilakukan renovasi besar-besaran. Untuk memberikan kesan luas, sebagian anak tangga dipotong dan dipindahkan ke luar. Selain itu, arah kiblat dimiringkan 15 derajat ke arah kanan.

Perombakan juga terjadi pada tempat imam dan mimbar. Keduanya dibuat menjorok ke depan. Atap yang semula terbuat dari papan diganti genting beglazur. Lantai pun dipasangi marmer.

Semula, Masjid Cut Meutia tak punya halaman maupun tempat parkir. Namun atas usaha Edi Marzuki Nalapraya, Wakil Gubernur DKI 1984-1987, lahan milik Dinas Pertamanan dibagi. Sebagian untuk taman, yang lain untuk halaman dna lokasi partir Masjid Cut Meutia.

Di halaman itulah setiap tahun diselenggarakan kegiatan syiar Islam. " Halaman ini pun setiap tahunnya ada Ramadan Jazz yang diselenggarakan oleh RICMA. Tidak mengganggu aktivitas masjid karena lagu jazz juga kan damai, tentram, tidak rusuh. Lagi pula itu kegiatan anak muda yang positif," ujar Ayi.

Masjid Cut Meutia juga menggelar pengajian secara rutin. Bagi umat muslim yang ingin memperdalam ilmu Islam, bisa ikut pengajian selepas maghrib. " Pengajian ada setiap malam. Ustaznya juga tidak dari Jakarta saja, ceramahanya juga beragam tema. Pendalaman materi juga diberikan," tambah dia.

Selama bulan Ramadan, masjid ini akan dibuka selama 24 jam. Dengan dibuka selama itu, semakin banyak umat muslim yang datang ke Masjid Cut Meutia untuk beribadah selama Ramadan dan memperdalam pengetahuan Islam.

" Kalau biasanya cuma sampai jam sepuluh malam, karena khawatir hanya dijadikan tempat untuk tidur, bukan beribadah. Tapi nanti Ramadan mungkin duapuluh empat jam," ujar Ayi. 

Beri Komentar